Video yang Beredar Warga Indonesia Tabligh di India Meminta Pemulangan



Viralmedia.Fun – Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia mengatakan ada 27 jemaah haji Indonesia yang menderita COVID-19 di India. Sebanyak 17 di antaranya masih menjalani perawatan.


"Sebanyak 17 dalam masa pengobatan dan 10 telah dinyatakan sembuh," kata Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri, Judha Nugraha, Kamis, 9 April 2020.


Judha mengatakan 17 warga negara Indonesia yang dirawat di India saat ini dalam kondisi stabil.


Selain itu, Judha mengatakan bahwa hingga saat ini ada sekitar 984 peziarah Indonesia yang tersebar di sembilan negara, termasuk India, Pakistan, Bangladesh, Filipina, dan Nepal. Informasi tersebut diperoleh oleh Kementerian Luar Negeri dari informasi yang dikumpulkan melalui simpul jemaat Tabligh di negara ini.




"Kesulitan kami adalah bahwa anggota jemaat Tabligh tidak melapor kepada perwakilan, jadi cobalah berbagai jenis simpul dari jemaat Tabligh dan berkoordinasi dengan kantor pusat di Kebon Jeruk untuk mengumpulkan data," kata Judha.


Sejauh ini, pemerintah telah menerima informasi bahwa 161 peziarah dari Indonesia berada di Bangladesh. "140 dari mereka tinggal di masjid-masjid di Dhaka dan 20 lainnya di luar Kota Dhaka," kata Judha.


Sementara di Nepal, 13 peziarah Indonesia dari Tabligh berada di Kathmandu. "Kondisinya sehat dan aman. Kemarin tes COVID-19 dilakukan dan kami masih menunggu hasilnya," katanya.


Sementara itu, data terbaru juga mencatat bahwa 77 peziarah Indonesia berada di Pakistan dan 30 di Filipina. "Dari jumlah itu (penyembah Tabligh Indonesia di Filipina), 19 di antaranya berada di Manila. Saat ini, mereka sudah berada di Masjid Emas Metro Manila, sedangkan sisanya di daerah sekitar Davao," kata Judha.


Dari sejumlah negara, India dan Filipina telah menerapkan kebijakan karantina regional di sejumlah kawasan.


Di Filipina, pemerintah setempat telah memberlakukan ekspansi karantina di Luzon, yang mencakup ibu kota di Manila. Aturan berlaku mulai 16 Maret dan direncanakan mulai berlaku hingga akhir April.


Tidak hanya di Filipina, pihak berwenang di India juga harus mengenakan karantina regional selama 21 hari sejak akhir bulan lalu.


Karena itu, Pemerintah Indonesia pada 17 Maret telah mengimbau warga negara Indonesia di luar negeri untuk segera kembali ke tanah air mereka untuk menghindari risiko karantina regional selama pandemi COVID-19 dan semakin terbatasnya akses penerbangan internasional.


"Pemerintah sangat mendesak warga negara Indonesia untuk membatasi perjalanan mereka ke luar negeri kecuali untuk kepentingan yang sangat mendesak dan tidak dapat ditunda. Bagi warga negara Indonesia yang saat ini bepergian ke luar negeri, mereka diharapkan segera kembali ke Indonesia sebelum mengalami kesulitan penerbangan lebih lanjut. Lagi," sesuai dengan banding dari Kementerian Luar Negeri. (Tempo.co)


Seluk beluk Kongregasi Tabligh Diduga Mempercepat Wabah Korona di India dan RI

Komunitas Kongregasi Tabligh, salah satu organisasi Islam terbesar di Asia Selatan, di ibukota India, New Delhi dianggap sebagai kantung penyebaran virus korona setelah mengadakan acara besar yang dikunjungi oleh ribuan orang.

Pihak berwenang India melaporkan berhasil melacak 128 kasus COVID-19 yang terkait dengan acara tersebut. Tujuh peserta dinyatakan meninggal.

Polisi India akhirnya secara paksa menutup markas organisasi di daerah pemukiman Muslim di New Delhi, Nizamuddin. Acara yang diadakan antara 13 dan 15 Maret ini dihadiri oleh setidaknya 7.600 Muslim India dan 1.300 turis asing, termasuk dari Malaysia dan Indonesia.

Polisi menemukan sekitar 2.000 orang masih tinggal di asrama milik organisasi Jemaah Tabligh ketika mereka ingin menutup paksa. Menteri Kesehatan New Delhi, Satyendra Jain mengklaim telah menemukan sebanyak 24 asrama positif untuk tertular virus korona, Aljazeera melaporkan.

Surat kabar Hindu melaporkan, Kementerian Dalam Negeri India akan menempatkan ratusan pengunjung dari Indonesia dalam daftar hitam imigrasi. "Mereka datang ke sini dengan visa turis. Tapi mereka malah berpartisipasi dalam konferensi agama. Ini adalah pelanggaran aturan imigrasi," kata seorang pejabat Kementerian Dalam Negeri di New Delhi.

Abaikan kebijakan pemerintah India

Pemerintah India telah mengambil kebijakan dramatis untuk memblokir penyebaran virus Corona. Pada 11 Maret, ketika tingkat penularan masih belasan, Kementerian Luar Negeri telah menarik semua visa turis dari luar negeri, dan dua hari kemudian menghentikan aliran kunjungan dari Bangladesh, Nepal, Bhutan dan Myanmar.

Tetapi arahan untuk membatalkan acara besar atau sekelompok besar orang diabaikan oleh beberapa pemimpin agama, termasuk Kepala Sidang Tabligh, Maulana Saad. Dia dilaporkan memerintahkan jemaatnya untuk tidak mematuhi arahan pemerintah. "Jika Anda berpikir Anda akan mati jika Anda berkumpul di masjid, maka saya katakan tidak ada tempat yang lebih mulia untuk mati," katanya dalam rekaman audio yang bocor ke media, India Today melaporkan.

Polisi New Delhi mengatakan mereka sedang mempersiapkan tuntutan pidana terhadap pejabat tinggi Jemaah Tabligh karena mereka dianggap membahayakan keselamatan orang lain. Saat ini India mencatat 32 kematian dari 1.251 kasus penularan Covid-19.

Siapa Kongregasi Tabligh?

Jemaah Tabligh adalah organisasi Sunni yang didirikan di India utara oleh Maulana Mohammed Ilyas Kandhlawi pada tahun 1926. Organisasi ini berkembang sebelum pemisahan India dan Pakistan, dan sekarang memiliki pengikut di 80 negara.

Organisasi ini memiliki kantor pusat di New Delhi, Markaz, dalam bentuk bangunan lima lantai yang berisi masjid dan asrama yang dapat menampung 5.000 orang. Beberapa anggota adalah pengkhotbah yang melakukan perjalanan ke negara itu secara rutin.

Jemaat Tabligh memimpikan komunitas Madani yang serupa di zaman Nabi Muhammad. Organisasi puritan ini menolak ajarannya yang dikaitkan dengan salah satu aliran pemikiran Sunni. Meski mengabarkan perdamaian, gerakan ini membantu kelahiran sel-sel teror di beberapa negara.

Mantan Presiden Pakistan Farooq Ahmad Khan Leghari dan Mohammed Rafiq Tarara diyakini sebagai simpatisan Jemaah Tabligh, termasuk mantan Presiden India Dr. Zakir Hussain.

Melacak di Nusantara

Menurut Farish Ahmad Noor, Profesor Studi Islam di Rajaratnam School of International Studies, Singapura, Jemaah Tabligh tiba di Indonesia pada tahun 1955. Dalam bukunya, Islam Bergerak: Tablighi Jama & # 39; di Asia Tenggara, gerakan ini Tercatat menggunakan Masjid Jami Kampung Jeruk adalah pangkalan pertama di Indonesia.

Sampai sekarang masjid ini masih digunakan oleh Jemaah Tabligh.

Ironisnya, pada akhir Maret Pemerintah DKI Jakarta mengisolasi sekitar 182 jamaah di masjid karena dugaan penularan virus korona. Dalam tes cepat, ditemukan tiga anggota jemaat dengan COVID-19. Beberapa dari mereka yang dikarantina adalah warga negara asing.

CNN Indonesia melaporkan bahwa hingga akhir Maret sebanyak 73 orang asing masih mengasingkan diri di dalam masjid. Menurut berita harian Kompas, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Budaya Muhadjir Effendy menyatakan, simpatisan dari Jamaah Indonesia di Tabligh yang berada di luar negeri akan ditempatkan dalam status orang-orang di bawah pengawasan (ODP).

Pemerintah mencatat bahwa saat ini ada 1.456 anggota Jamaah Tabligh yang tersebar di seluruh Indonesia. Diketahui, 731 orang berada di India. Salah satu pusat penyebaran gerakan ini adalah Pesantren Al-Fatah di Temboro, Jawa Timur, yang juga berfungsi sebagai pusat penyebaran dakwah di Asia Tenggara, terutama di Thailand dan Malaysia, tulis Farish Noor dalam bukunya.

Uniknya, meski banyak yang dikaitkan dengan gerakan teror di Asia Selatan, Jemaah Tabligh, menikmati kedekatan dengan organisasi-organisasi Islam besar di Indonesia, seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI). Wakil Sekretaris Jenderal MUI Pusat Amirsyah Tambunan misalnya mengatakan, ideologi Tabligh tidak jauh berbeda dengan sikap MUI pada umumnya.

Hal yang sama dikatakan oleh Hidayat Nurwahid, ketika ia masih menjadi Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), ketika diwawancarai oleh Farish Noor. "Ada banyak spekulasi tentang Tabligh. Apakah mereka teroris? Atau mereka ekstremis? Saya pikir semua itu omong kosong, karena Tabligh tidak politis dan mengapa itu tidak berbahaya bagi siapa pun," katanya.

rzn / as (detik.com)


Meminta Pemecatan

__Terbit pada
14 April 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *