Undangan Strategis Menteri Mas | Portal Berita Perjalanan Bisnis

title=winni/

class=wp-image-54311
Thamrin Bachri (Foto: enhaiiercorporation.com)

PAJAK Menteri Mas Parekraf Wishnutama kepada Kepala Dinas Pariwisata di daerah untuk segera mempersiapkan diri menghadapi lonjakan wisatawan setelah pandemi COVID-19 tampaknya bukan sekadar undangan rutin, bisa jadi undangan strategis.

Mengapa demikian?

Pertama, produk wisata akar rumput terletak di kabupaten dan kota karena bertanggung jawab untuk perencanaan, pengembangan dan pemasaran itu adalah Dinas Pariwisata bersama dengan para pemangku kepentingan lainnya.

Kedua, berbeda dari produk dalam bentuk barang, produk pariwisata harus dilihat sebagai totalitas atau disebut juga wisatawan total pengalaman yang terdiri dari berbagai komponen seperti tempat wisata, aksesibilitas, dan fasilitas (triple A) bahkan elemen manusia juga melekat pada produk pariwisata.

Oleh karena itu, untuk mempersiapkannya menjadi tujuan kunjungan yang aman, nyaman dan menarik, terutama setelah pandemi COVID-19, diperlukan kolaborasi lintas-sektoral dan koordinasi tingkat tinggi serta perencanaan yang cermat termasuk waktu dan biaya.

Selain itu, penting untuk memahami perubahan yang akan terjadi di pasar pasca-COVID-19 termasuk bahwa "pasar domestik" akan menjadi pangsa potensial, termasuk pelancong bisnis dan kelompok milenial untuk menjadi target pasar.

Oleh karena itu, setelah COVID-19 akan banyak destinasi wisata yang akan menawarkan paket perjalanan murah sehingga destinasi tersebut akan diposisikan sebagai ramah anggaran tujuan, posisi ini adalah salah satu karakter yang dipilih dari pangsa pasar domestik.

Selain itu, kesadaran wisatawan akan pentingnya kebersihan, kebersihan, dan sanitasi juga akan meningkat dan memiliki pengaruh besar terhadapnya rasa dan preferensi wisatawan dalam memilih tujuan atau produk wisata tertentu.

Yang tak kalah penting adalah perencanaan produk campuran atau campuran produk untuk membawa paket wisata baru yang relevan dengan selera dan pilihan pasar pada saat itu, misalnya pasar tunggal dengan bauran produk multi atau beberapa pasar dengan satu produk untuk masing-masing dan berbagai kombinasi lainnya sesuai dengan target pasar dan keberadaan produknya.

Akhirnya, faktor yang telah mewarnai produk pariwisata adalah manusia (SDM). Kompetensi sumber daya manusia ini tidak hanya harus profesional di bidangnya, tetapi juga harus bisa menjadi Komunitas tuan rumah bahwa ramah wisatawan. Ini tentunya perlu disiapkan melalui berbagai kegiatan DIKLAT baik formal maupun informal.

Nah, ternyata memang perlu persiapan yang matang, apalagi kita masih menghadapi * KETENTUAN * terkait pandemi COVID-19 ini. Jadi perlu menyiapkan sesuatu sejak dini perencanaan skenario proaktif sehingga bisa dilaksanakan sesuai dengan kondisi yang akan datang.

Mungkin itulah alasan mengapa Menteri Mas Parekraf meminta teman-teman kita di Kantor Pariwisata untuk menyiapkan rencana sebelumnya untuk menghadapi lonjakan wisatawan setelah COVID-19 nanti.

Seorang pria yang tidak berpikir dan merencanakan jauh ke depan akan menemukan masalah tepat di pintunya (Konfusius).

*Penulis adalah Alumnus Hospitality & Tourism University of Wisconsin

__Terbit pada
26 April 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *