Tiga Upaya Memerangi Covid-19 di Indonesia – Berita Luar Negeri

title=large-untitled-88fab01f630eb5bad5f31051afb6e9d6/

Rakyat Indonesia telah "menyatakan" perang terhadap Covid-19 sejak penemuan kasus positif pertama diumumkan pada 2 Maret 2020 oleh Presiden Jokowi. Pada awal penularan, jumlah kasus yang ditemukan hanya 2 kasus.

Namun, tepat satu bulan kemudian pada 2 April 2020, kasus positif telah meningkat menjadi 1.790 dengan 157 kematian. Fakta ini menempatkan angka tingkat kematian Indonesia jauh lebih tinggi (9,4%) daripada rata-rata global saat ini (5%).

Dalam perang ini, pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk memutus rantai penularan, termasuk dengan mengeluarkan Keputusan Presiden No. 11 tahun 2020 tentang keadaan kesehatan kesehatan publik Covid-19.

Pemerintah juga mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 21 tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Skala Besar dalam rangka mempercepat Penanganan Covid-19, dan Peraturan Pengganti Undang-Undang (Perppu) Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan.

Sekarang, saatnya bagi seluruh potensi bangsa untuk bekerja sama untuk mengambil bagian dalam upaya memenangkan perang ini karena ada banyak potensi nasional yang dapat digunakan. beberapa di antaranya adalah semangat persatuan Indonesia, budaya gotong royong, dan gerakan milenial.

Roh Persatuan Indonesia

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dan kuat. Tercatat dalam sejarah, lebih dari 350 tahun bangsa ini berperang melawan penjajah. Kemerdekaan Indonesia diperoleh dengan perjuangan bukan dengan "memberi", seperti beberapa negara lain.

Kami tidak mendapatkan kemerdekaan karena senjata yang lebih canggih atau lebih banyak pasukan. Tapi kami menang karena semangat persatuan Indonesia bersama. Dari Sabang ke Merauke, dari Miangas ke Pulau Rote, seruan kemerdekaan atau kematian menjadi simbol perjuangan dan persatuan bangsa ini.

Sekarang, saatnya menyatukan kembali semangat persatuan. Seperti yang kita ketahui bahwa sampai sekarang, tidak ada vaksin atau obat yang ditemukan untuk Covid-19. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah strategi pencegahan dengan memutus rantai penularan.

PSBB diadopsi oleh pemerintah sebagai strategi untuk memutus rantai penularan. Agar strategi menjadi sukses, dibutuhkan kebersamaan, persatuan, dan disiplin yang tinggi dari semua lapisan masyarakat.

Di masa lalu, Panglima Tertinggi Jenderal Soedirman telah menggunakan taktik perang gerilya dalam berurusan dengan penjajah. Dia dan pasukannya memasuki hutan, gunung dan lembah untuk bersembunyi bukan karena mereka takut, tetapi itu adalah strategi perang yang dilakukan untuk dapat mengalahkan musuh yang memiliki senjata lebih canggih dan lebih banyak pasukan.

Sekarang, dalam perang melawan penyebaran Covid-19, kita dapat kembali menggunakan strategi ini. Dengan memasuki rumah mereka, bekerja, melakukan kegiatan, dan beribadah dari rumah. Strategi ini tidak menunjukkan bahwa kita takut terhadap virus ini, tetapi ini adalah strategi untuk melakukan perlawanan.

Strategi ini akan efektif jika semua anak bangsa bersama-sama menerapkannya. Kami tidak bercerai, tetapi kami bersatu dalam menerapkan strategi yang sama sehingga kami kuat. Jika kita bercerai dalam menjalankan strategi ini, kita akan runtuh.

Budaya gotong royong

Salah satu dampak yang menjadi perhatian pemerintah adalah implementasi kebijakan PSBB di sektor ekonomi dan sosial, terutama pada orang biasa dan pekerja informal yang bergantung pada kegiatan sehari-hari mereka untuk mencari nafkah.

Namun, pemerintah tidak perlu terlalu khawatir. Masyarakat kita memiliki potensi besar untuk menghadapi masalah-masalah ini bersama, yaitu semangat gotong royong. Saling bekerja sama adalah istilah Indonesia untuk bekerja bersama untuk mencapai hasil yang diidamkan. Istilah ini berasal dari kata saling membantu yang berarti bekerja dan gotong royong yang berarti bersama.

Semangat gotong royong memiliki daging mandarah, mengalir dalam setiap aliran darah anak-anak bangsa. Berdasarkan laporan buku CAF World Giving Index 2018, Pandangan Global tentang Tren Pemberian, yang diterbitkan pada Oktober 2018, Indonesia dinobatkan sebagai negara paling dermawan di dunia dengan skor untuk membantu orang lain sebesar 46 persen, menyumbangkan materi 78 persen, dan melakukan kegiatan sukarela 53 persen.

Sekarang, semangat gotong royong mulai muncul di masyarakat. Berbagai kegiatan, seperti gerakan penggalangan dana, distribusi topeng dan peralatan perlindungan pribadi untuk petugas kesehatan, bantuan makanan, dan bahan makanan untuk orang-orang kecil, semuanya merupakan bentuk kerja sama yang berkelanjutan.

Orang Indonesia siap bekerja sama dalam memenangkan perang ini, Covid-19. Pemerintah tidak perlu terlalu khawatir. Seperti yang dikatakan Presiden Ghana ketika dia mengumumkannya kuncitara negaranya, katanya,

"Kami tahu cara menghidupkan kembali ekonomi. Yang tidak kami ketahui adalah bagaimana menghidupkan kembali orang."

Gerakan Milenial

Bangsa potensial berikutnya adalah semangat milenium. Generasi Millenial sering dikaitkan dengan perilaku penggunaan teknologi informasi, seperti internet dan media sosial.

Penduduk Indonesia berusia 16 hingga 64 tahun yang berselancar di internet dalam sehari mencapai rata-rata 7 jam 59 menit. Pengguna internet Indonesia mencapai 175,3 juta atau 64% dari total populasi Indonesia. Mayoritas pengguna ini menggunakan ponsel, sebanyak 171 juta atau 98% dari pengguna internet Indonesia. Bahkan saat ini, dalam komunitas istilah baru sedang muncul, yaitu negara netizen dan pemberontak.

Inilah saatnya bagi milenium Indonesia untuk ambil bagian. Menyebarkan berita positif, melakukan pendidikan kesehatan tentang Covid-19 kepada masyarakat luas, dan membuat panggilan dan undangan dari publik. tokoh masyarakat untuk terus bertarung Covid-19. Ini tentunya akan berdampak signifikan pada perubahan perilaku masyarakat kita.

Sudah saatnya bagi kaum milenial dan kebohongan untuk membuktikan diri untuk berkontribusi dalam perang ini, di tengah stereotip negatif yang melekat pada mereka.

Pada akhirnya, bagi Covid-19, kita semua harus ingat, kita adalah Indonesia. Dan Covid-19 tidak bisa dianggap remeh.

__Terbit pada
23 April 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *