Tiga Tingkat Puasa Menurut Imam Ghazali | Viralmedia.Fun

title=images

Jakarta, Viralmedia.Fun – Muslim di seluruh dunia sekarang melakukan puasa Ramadhan. Sebagian dari kita memahami bahwa bulan puasa adalah menahan diri dari makan dan minum sampai batas waktu yang ditentukan oleh Syariah. Namun menurut Imam Al-Ghazali pengertian puasa tidak hanya sebatas itu.

Ulama yang diberi gelar hujjatul Islam telah membagi puasa menjadi tiga tingkatan atau tiga jenis. Dia telah menulis penjelasan tentang tiga jenis puasa dalam buku terbaiknya, Ihya Ulumuddin, yang berbunyi:

إعلم أن الصوم ثلاث درجات صوم العموم وصوم الخصوص وصوم خصوص الخصوص: وأما صوم العموم فهو كف البطن والفرج عن قضاء الشهوة كما سبق تفصيله, وأما صوم الخصوص فهو كف السمع والبصر واللسان واليد والرجل وسائر الجوارح عن الآثام, وأما صوم خصوص الخصوص فصوم القلب عن الهضم الدنية والأفكار الدنيوية وكفه عما سوى الله عز وجل بالكلية ويحصل الفطر في هذا الصوم بالفرر فيماسول

"Ketahuilah bahwa puasa memiliki tiga tingkatan: puasa umum, puasa khusus, dan puasa paling istimewa. Yang dimaksud puasa umum adalah menahan perut dan alat kelamin dari memenuhi kebutuhan nafsu. Puasa khusus memegang telinga, pendengaran, lidah, tangan , kaki, dan semua bagian tubuh dari dosa. Sedangkan puasa yang paling istimewa adalah menahan hati agar tidak mendekati penghinaan, pikirkan dunia, dan pikirkan selain Allah SWT. Untuk puasa ketiga ini (doa khusus khusus) disebut batal demi hukum jika itu ada di jantung pikiran selain Allah SWT dan akhirat. "

Ketiga tingkatan ini diatur berdasarkan sifat orang yang melakukan puasa. Beberapa orang berpuasa hanya untuk menahan diri dari makan dan minum, tetapi tindakan amoral tetap dilakukan. Inilah puasa orang biasa. Secara umum, mereka mendefinisikan puasa sebagai terbatas pada menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa di akhir zaman.

Jika orang menyadari bahwa puasa tidak hanya terbatas pada makan dan minum yang lahiriah, maka kata Ghazali ia akan naik ke level kedua, yaitu puasa orang saleh. Mereka lebih maju dari orang biasa.

Karena, mereka mengerti bahwa puasa tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari berbuat dosa. Tidak ada gunanya berpuasa, jika Anda masih terus melakukan tindakan amoral. Karena itu, kelompok ini menganggap amoralitas sebagai pengikat.

Jauh di atas itu adalah puasa orang yang paling istimewa. Puasa model ini hanya dilakukan oleh orang-orang tertentu. Hanya beberapa orang yang mencapai tahap ini. Mereka adalah wali Allah, kekasih Allah.

Alasannya, selain menahan rasa lapar dan haus serta menahan diri dari tindakan tidak bermoral, mereka juga memfokuskan pikiran mereka untuk selalu mengingat Allah SWT. Bahkan, pemikiran selain Allah SWT dan pemikiran dunia dianggap merusak dan membatalkan puasa. Kunci dari puasa ini adalah hati yang bersih, bukan nafsu. (Albar)

__Terbit pada
24 April 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *