Thamrin Bachri: Pariwisata Adalah Orang-Orang Menjadi Tahap Tanggap Darurat yang Berfokus pada Hadiah Banyak Orang

title=IMG-20200418-WA0077/

Wisatawan nusantara bersiap memasuki pesawat. Dalam Tahap Normalisasi Pasca Covid, Milenial Wisnus akan menjadi andalan (Foto: Kemenparekraf)

JAKARTA, business tourism.co.id: Pariwisata adalah manusia, industri yang melayani dan melayani semuanya sangat tergantung pada kerja tim orang yang ada dalam industri ini, "kata Thamrin B. Bachri, pengamat pariwisata dan dosen di perguruan tinggi pariwisata, hari ini.

"Orang yang bepergian juga ingin memiliki pengalaman pribadi yang menyenangkan pariwisata adalah orang-orang tidak hanya semboyan tetapi juga dapat menyediakan produk dan kegiatan yang dipersonalisasi, "kata pengamat dan pengamat pariwisata ini.

Karena itu. kata Thamrin, ketika seluruh dunia menghadapi wabah penyakit yang menjadi pandemi global Covid-19 dan di Indonesia di tengah masa Tanggap Darurat, sudah sepantasnya sikap menteri Parekraf harus diacungi jempol. .

"Program Mas Mentri Kementerian Kemenparekraf Whisnutama memprioritaskan kepentingan keamanan, kenyamanan tenaga medis dari berbagai rumah sakit dengan menyediakan akomodasi, transportasi dan hotel bintang layanan penuh karena mereka memprioritaskan orang," kata Thanrin B. Bachri.

Karena itu, pernyataan Menteri Koordinator Bidang Kelautan dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, yang berencana segera mendatangkan wisatawan dari China, Jepang dan Korea Selatan, tidak memiliki momentum yang tepat.

Bali, kata Luhut, adalah salah satu daerah yang akan didorong untuk menarik wisatawan asing, seperti Cina, Jepang dan Korea Selatan, yang sedang pulih dari pandemi virus corona. "Pada saat yang sama, kami sedang menyiapkan detektor Covid-19 untuk wisatawan asing yang akan datang ke Indonesia," kata Lihut Binsar Panjaitan pekan lalu.

Menurut Thamrin, tidak etis untuk berbicara tentang pemasaran untuk menarik wisatawan asing karena pada tahap Tanggap Darurat fokusnya adalah pada kemanusiaan. Karena itu ia memberikan spesialisasi tingkat tinggi ke Menparekraf.

"Industri pariwisata seperti seseorang yang kehabisan nafas sehingga mereka perlu diberi oksigen. Lebih jauh, pada kenyataannya pada tahap ini tidak mungkin untuk" memindahkan "pasar dengan strategi apa pun karena pasar sedang mengalami" fobia kematian ". "Sebagai hasil dari pandemi yang membelit-19," kata Thamrin.

Mantan Direktur Jenderal Pemasaran Pariwisata Asing Kemenpar, mengingatkan pada saat krisis pada tahun 2003 istilah dikembangkan jika kamu terbang kamu mati karena ada wabah Flu Burung dan SARS. Akibatnya, kecenderungan orang untuk bepergian atau kecenderungan untuk bepergian untuk NOL.

Pada tahap tanggap darurat satu promosi sub-campuran yang bisa diterapkan adalah berbagai kegiatan PR. Contoh kegiatan pemasaran yang memiliki dampak kemanusiaan pada situasi konvensi pandemi 19 dilakukan misalnya oleh Mc Donald yang mengubah logonya untuk mencerminkan jarak fisik.

Produk-produk lain seperti Kentucky Fried Chicken (KFC) dengan menempatkan topeng pada logo mereka untuk mengatakan bahwa selama periode pvidemik 19, sangat diperlukan untuk menggunakan masker sebagai bentuk pemasaran yang berorientasi kemanusiaan atau pemasaran yang bertanggung jawab, tambahnya.

Menyoroti rencana normalisasi dengan memobilisasi wisatawan domestik atau yang disebut turis asing nuga, Thamrin oprimistis dapat menggerakkan mereka. ekonomi dengan cepat. Selain pandemi global yang terjadi sebelum berkembang di tengah-tengah komunitas wisata telah menjadi bagian dari gaya hidup.

"Kecenderungan untuk bepergian (traveling) karena dorongan teknologi informasi dan pengembangan konektivitas penerbangan yang murah atau murah pembawa biaya rendah (LCC) yang menjangkau banyak tujuan wisata menarik di negara ini akan terus berlanjut, "

Selain itu, tumbuhnya komunitas kelas menengah di Indonesia yang didominasi oleh kaum muda menyebabkan wisatawan domestik atau wisatawan domestik memiliki daya beli. (daya beli) tinggi.

Seperti diketahui wisatawan kelompok muda atau wisatawan milenial akan terus tumbuh dan menjadi pasar utama. Pada tahun 2019, lebih dari 50% pasar pariwisata Indonesia didominasi oleh kaum milenial. Thanrin yakin bahwa milenium Indonesia yang kokoh Covid-19 akan menjadi pelopor dalam menjelajahi negara dan berkontribusi pada pemulihan pariwisata Indonesia.

__Terbit pada
20 April 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *