Telah Meninggal, Masih Termasuk dalam Daftar Covid-19 Penerima di Tanah Lemo Bontobahari

Bulukumba, Viralmedia.Fun – Sejumlah warga di Desa Tanah Lemo, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba yang telah meninggal dimasukkan dalam data penerima dana kompensasi untuk dampak wabah virus korona atau Covid-19.

Dikhawatirkan, penerima data bantuan dari dampak wabah korona yang tidak valid akan menimbulkan konflik antara warga dan aparat desa.

Hal ini diungkapkan oleh Ketua DPC Lidik Pro Bontobahari Andi Parman setelah memeriksa daftar nama penerima dampak Covid19.

Menurut Andi Parman, ia menemukan nama dua orang yang telah lama meninggal dalam daftar penerima bantuan yaitu Sugi (P) dari lingkungan Tarampang dan Saodah (P) dari lingkungan Tanah Lembang.

Daftar nama penerima dampak bersama 19 di Kecamatan Tanah lemo, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba
Daftar nama penerima dampak bersama 19 di Kecamatan Tanah lemo, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba

"Beberapa orang yang telah lama meninggal masih memiliki nama mereka dalam daftar penerima dampak bersama, ini hanya dua nama yang saya temukan, yaitu atas nama Sugi dan Saodah, kedua orang ini telah lama meninggal, bagaimana mungkin mereka masih termasuk dalam daftar penerima manfaat co-19 juga, "kata Andi Parman yang ditemui langsung di kediamannya, Rabu (22/4/2020) siang.

Dia juga menyebutkan bahwa jika ada kemungkinan banyak nama dalam daftar yang perlu direvisi, data yang diungkapkan oleh layanan sosial kabupaten Bulukumba kepada pemerintah kecamatan Bontobahari kemungkinan masih berupa data lama.

Kepala lingkungan Tarampang, Rahmadi, juga mengkonfirmasi bahwa data itu tidak valid, "" Dg. Sugi sudah lama meninggal, kok masih ada di data. Sepertinya ini masih data lama, "kata Rahmadi kepada ViralMedia.Fun.com

Rahmadi juga menambahkan bahwa tidak ada gunanya mendaftarkan sebanyak mungkin orang sebagai penerima bantuan jika pada akhirnya data yang kami terima berbeda dengan data yang kami masukkan.

Aktivis Lidik Pro Andi Parman berharap akan ada sinergi antara pemerintah kecamatan, arus keluar dan lingkungan bersama dengan instansi terkait.

"Ini adalah masalah sosial. Kami tidak ingin konflik warga di tengah pandemi co-19 ini, mereka memiliki data, terutama karena kepala lingkungan tahu lebih baik warga mana yang benar-benar membutuhkan bantuan, mengapa ada data yang tiba-tiba turun maka tidak cocok lagi, "Andi Parman. (*)

__Terbit pada
22 April 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *