Puasa dan Akhir (Bagian 2) | Viralmedia.Fun

title=Tolong/

Oleh: Abdullah Mahmud

Kita sebagai bangsa yang penduduk Muslimnya menempati yang terbesar di dunia, harus menunjukkan karakter yang mulia. Karena moralitas adalah cerminan dari nilai-nilai agama Islam yang mulia yang terserap di dalamnya.

Dalam teori etika atau moralitas manusia umumnya ada 4 teori:

Pertama, etika berasal dari kearifan budaya.

Kedua, etika berasal dari intuisi dan perasaan.

Ketiga, etika berasal dari kesenangan dan kemanfaatan (pragmatisme) dan peluang (oportunisme).

Keempat, etika bersumber dari akal.

Itulah kesimpulan tren etika dalam pengalaman manusia di luar umat Islam. Bagi umat Islam berbeda karena sumber moralitas adalah wahyu.

Poin utama dari kerusakan moral adalah tiga dari pengalaman manusia utama pada awal pekerjaan mereka:

Pertama sombong. Itulah karakter yang dimiliki oleh Setan.

Kedua serakah. Itulah yang membuat Nabi Adam Damai menyertainya dan istrinya Hawa diusir oleh Tuhan dari surga karena melanggar larangan makan buah yang dilarang karena keserakahan, meskipun seluruh isi surga diizinkan untuk dimakan.

Ketiga dengki. Karakter buruk inilah yang menyebabkan Qabil membunuh saudaranya sendiri Habil.

Karena itu, menarik untuk dicatat kesimpulan Ibn Hazm tentang poin utama karakter baik dan buruk pada manusia dalam bukunya Al-Akhlak adalah Siyar & # 39; hal. 59, yaitu:

Poin utama moral yang baik adalah 4: (1) Keadilan, (2) pengetahuan dan pemahaman, (3) keberanian dan (4) kemurahan hati.

Sedangkan lawan: (1) tirani, (2) ketidaktahuan, (3) pengecut, dan (4) pelit alias kikir.

Sementara Ibnul Qayyim dalam buku Madarijus Salikin, (2/308) menyebutkan 4 poin karakter yang mulia, yaitu: (1) Sabar, (2) 'iffah (terhormat), (3) berani, dan (4) menjadi adil.

Imam Sufyan Ats-Tsauri lebih berlaku dan sederhana, ada tiga:

Pertama, lakukan yang terbaik.

Kedua, jangan ganggu orang lain.

Ketiga, selalu tersenyum.

Imam Al-Ajurri menyebutkan moral para ulama dalam bukunya Akhlaqul ‘Ulama & # 39 ;, bahwa ulama harus memiliki karakter moral yang tinggi, yaitu:

Pertama, ketika bertemu dengan para sarjana yang lebih berpengetahuan, ia belajar.

Kedua, ketika bertemu dengan para sarjana yang ilmunya sama, maka ia berdialog.

Ketiga, ketika dia bertemu orang-orang yang pengetahuannya ada di bawahnya, maka dia mengajarkannya.

Abu Bakar Ash-Shiddiq mengajarkan kita; "Jika kamu bertemu dengan orang tua, katakan pada dirimu sendiri bahwa dia lebih mulia karena faktor usia lebih banyak iman dan perbuatan baik. Ketika kamu bertemu orang muda, katakan dia lebih mulia karena sedikit dosa dan keberdosaan. Sementara aku lebih banyak berdosa dan amoralitas. "(Aina Nahnu min Akhlaqis Salaf, hlm. 17).

Moral memiliki cakupan yang luas.

Akhlak bagi Allah; cintai Dia, hanya berharap pada-Nya, hanya takut pada-Nya, hargai berkah-Nya, percayakan kepercayaan Anda kepada-Nya, dll.

Akhlak bagi Utusan Allah ﷺ; cintai dia, cintai keluarganya, ikuti dia, berperilaku seperti dia, pahami dan laksanakan sunnahnya, dll.

Akhlak bagi Alquran; membacanya, menguduskannya, mempraktikkannya, mengajar dan mengkhotbahkannya, menghukumnya, dll.

Akhlak bagi makhluk secara umum; kepada orang tua, kerabat, keluarga, tetangga, Muslim dan orang-orang percaya bahkan kepada non-Muslim dan untuk hewan dan tumbuhan dan alam semesta.

Hidup hanya dua; baik dan buruk. Moral yang berharga selalu bersentuhan dengan kabaikan, sementara moral yang buruk bersinggungan dengan kejahatan.

Akan luar biasa jika temperamen kita dihiasi dengan karakter yang begitu mulia. Akan lahir genarasi karakter mulia yang luhur sebagai alumni yang insya Allah puasa.

إن من أحبكم إلي وأقربكم مني مجلسا يوم القيامة أحاسنكم أخلاقا, وإن أبغضكم إلي وأبعدكم مني مجلسا يوم القيامة: الثرثارون, والمتشدقون, والمتفيهقون. قالوا: يا رسولَ اللَّهِ قد علِمنا الثَّرثارونَ والمتشدِّقونَ ، فما المتفَيهِقونَ؟ قالَ: المتكبِّرونَ

"Memang, orang yang paling aku cintai di antara kamu dan orang yang paling dekat denganku pada Hari Pengadilan akan menjadi orang terbaik pada akhirnya. Dan orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku pada Hari Pengadilan adalah ats-tsartsarun, al-mutasyaddiqun dan al-mutafaihiqun"Teman berkata:" Ya Rasulullah, kita sudah tahu artinya ats-tsartsarun (banyak bicara) dan al-mutasyaddiqun (suka mengganggu), lalu apa artinya al-mutafaihiqun? "Dia menjawab," Orang yang bangga, "(HR. At-Turmudzi).

Wallahul Mustaan.

__Terbit pada
29 April 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *