Perubahan Tren Setelah Covid-19 diperkirakan memiliki dampak positif pada sektor pariwisata

Perubahan

* Borobudur, salah satu tujuan wisata di Indonesia. (Foto: Doc Kemenparekraf)

Jakarta, Viralmedia.Fun Pandemi Covid-19 yang melanda hampir 200 negara termasuk Indonesia telah membawa perubahan dunia termasuk di sektor pariwisata yang diprediksi akan berakhir setelah perubahan tren perjalanan.

Sekretaris Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ni Wayan Giri Adnyani menjelaskan, pihaknya terus mempersiapkan perubahan tren baru setelah pandemi Covid-19.

"Kami akan menyiapkan tujuan sesuai dengan kondisi normal baru. Destinasi itu disiapkan dengan mempromosikan prinsip pariwisata berkelanjutan, termasuk masalah kesehatan, dan keselamatan," kata Giri dalam keterangan tertulisnya, Minggu (26/4/2020).

Dia menambahkan, pemerintah membagi tiga tahap dalam penanganan Covid-19 yaitu periode tanggap darurat, pemulihan dan normalisasi. Pemerintah juga telah merealokasi anggaran dan mengimplementasikan program-program khusus selama periode tanggap darurat Covid-19.

Realokasi akan diarahkan ke berbagai program yang sifatnya mendukung periode tanggap darurat untuk membantu sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

"Dalam forum ini kami juga meminta untuk bisa berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam menghadapi situasi saat ini," kata Giri.

Sementara itu, Pendiri & Ketua MarkPlus, Inc. Hermawan Kartajaya mengatakan, sektor pariwisata adalah sektor yang paling terkena dampak pandemi dan berdampak pada sektor lain.

"Sekarang semua orang sadar bahwa ketika pariwisata berhenti, ekonomi juga berhenti. Semua baru menyadari bahwa pariwisata adalah tulang punggung perekonomian. Covid-19 menarik, karena pariwisata tidak akan pernah sama lagi," kata Hermawan.

Dia juga mempertimbangkan bahwa, meskipun dihantam Covid-19, Bali adalah contoh yang baik dalam menggabungkan "Tuhan, manusia, alam" di sektor pariwisata. Karena ia memperkirakan bahwa setelah Covid-19 akan ada lebih banyak wisatawan yang menuntut pariwisata tidak hanya dari segi harga, tetapi juga kelestarian lingkungan di destinasi tujuan. Mereka menginginkan destinasi berkualitas dengan sifat dan keamanan yang lebih baik, sistem mitigasi, di mana mereka dapat terjadi dengan menggabungkan ketiga elemen ini.

"Berbicara tentang bertahan hidup atau bertahan hidup, itu pasti. Sekarang yang tersisa adalah berbicara tentang persiapan atau persiapan ketika wisatawan kembali setelah Covid-19. Bali adalah contoh dan memiliki ketahanan," katanya.

Tidak hanya Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB) juga kini bersiap karena melihat potensi di masa depan. "Seperti yang saya katakan, daerah ini sadar bahwa pariwisata adalah pendorong ekonomi," kata Hermawan. (POY)

__Terbit pada
26 April 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *