Pandemi Korona Diprediksi Meningkatkan Tingkat Kehamilan


Viralmedia.Fun – Pandemi virus Corona atau COVID-19 berdampak pada penurunan jumlah akseptor KB (KB) di Kabupaten Sragen. Akibatnya, angka kehamilan diperkirakan akan meningkat hingga 10 persen.

"Kenaikan tingkat kehamilan kami diperkirakan sekitar 10 persen. Ini banyak dari kita di rumah, banyak PUS (pasangan usia subur) terpaksa meninggalkan rumah. Layanan untuk memasang alat keluarga berencana juga terbatas," kata Ketua Sragen dari Asosiasi Instruktur Keluarga Berencana (IPeKB). Suwanto, dihubungi oleh AFP, Selasa (28/4/2020).

Suwanti menjelaskan, kebijakan sosial dan jarak fisik menjadi faktor utama yang berkontribusi terhadap potensi peningkatan angka kehamilan. Ditambah dengan sosialisasi terbatas dari penasihat keluarga berencana karena pertemuan yang mengumpulkan banyak orang, saat ini tidak dapat dilakukan.

"Di puskesmas, klinik dan rumah sakit, layanan pemasangan perangkat keluarga berencana juga terbatas, paling banyak hanya maksimal 10 pasien per hari.

Faktor-faktor ini, lanjut Suwanto, membuat jumlah akseptor KB turun 45 persen. Para instruktur, sekarang harus memutar otak mereka untuk menekan angka kehamilan dan menyesuaikan jarak kehamilan.

"Prediksi kenaikan angka kehamilan menggunakan logika psikologis dalam menganalisis masyarakat. Mereka mengalami kesulitan dalam memiliki keluarga berencana karena terbatas. Peningkatan ini akan terlihat jika sudah berjalan selama tujuh hingga sembilan bulan," tambahnya.

Suwanto, bersama dengan 52 konselor KB di Kabupaten Sragen, sekarang mengintensifkan sosialisasi dari pintu ke pintu, sambil terus memprioritaskan panggilan pemerintah untuk jarak. Selain itu, warga juga didorong untuk menggunakan metode kontrasepsi yang lebih mudah diakses, seperti kondom dan pil.

"Di masa lalu, kami mengumpulkan informasi dari para ibu di posyandu. Tetapi dengan kondisi ini, kami tidak bisa. Sekarang kami mencari data tentang jumlah desa PUS, kami pergi. Kami juga meningkatkan pasokan alat kontrasepsi seperti kondom dan pil ke bidan desa, sehingga warga bisa mendapatkannya secara gratis, "kata Suwanto.

Dihubungi secara terpisah, Penjabat Kepala Kantor Kontrol Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Sragen, Joko Puryanto membenarkan penurunan jumlah akseptor KB di daerahnya. Berdasarkan data DP2KBP3A, perbandingan jumlah akseptor KB pada kuartal pertama 2019 dan 2020 menghasilkan perbedaan 435 akseptor.

"Memang menurun. Pada 2019, hingga akhir Maret jumlah akseptor 2.145. Pada periode yang sama tahun ini, jumlahnya hanya 1.710 akseptor. Itu adalah data akseptor fasilitas kesehatan pemerintah," jelas Joko.

Sementara untuk akseptor di fasilitas pribadi, ada juga penurunan, dari 1.276 akseptor pada kuartal pertama 2019, turun ke 1.181 tahun ini. Pihaknya sekarang mencoba mengalihkan akseptor KB untuk sementara menggunakan kontrasepsi suntik, pil dan kondom. Upaya ini diimbangi dengan perluasan kontrasepsi, yang sebelumnya hanya dilakukan di fasilitas kesehatan BPJS, dan diperluas ke semua fasilitas kesehatan yang terdaftar di kantor KB.

"Kami juga bekerja pada bidan desa untuk dapat melakukan pemasangan implan atau IUD dengan terus memperhatikan protokol kesehatan. Intinya, upaya telah dilakukan untuk tetap mengendalikan tingkat kehamilan," kata Joko. (Detik.com)

__Terbit pada
29 April 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *