Nyesek! Sebelum Meninggal, Yulie Sudah Mengusulkan Bansos Tapi Ditolak. Ini adalah pengakuan Mr. RT


Viralmedia.Fun – Pandemi corona di Indonesia tidak hanya memiliki efek kesehatan, tetapi juga menekan ekonomi masyarakat, terutama kelas menengah ke bawah. Seorang warga Kelurahan Lontar Baru, Kabupaten Serang, Banten, bernama Yulie Nuramelia (43) dilaporkan meninggal setelah dua hari kelaparan.

Yuli dan keluarganya bertahan hidup hanya dengan meminum galon air isi ulang sejak pecahnya virus corona Covid-19 di Indonesia.

Agus Jakaria, Kepala RT 03 RW 07, Kecamatan Lontar Baru, Kabupaten Serang, Kota Serang, Banten, mengaku telah membawa file-file keluarga mendiang Yulie Nuramelia ke pemerintah untuk mendapatkan bantuan sosial (bantuan sosial). Tetapi data keluarga ditolak, karena ditulis bekerja sebagai petugas kebersihan yang dianggap mendapatkan gaji setiap bulan.

Memang benar bahwa suaminya, Mohamad Holik bekerja sebagai "petugas kebersihan" yang mencari barang bekas dan layak dijual dari tempat sampah atau lebih tepatnya pemulung.

Penghasilannya tidak pasti, tetapi jika rata-rata hanya Rp. 30.000, penghasilan tertinggi per hari. Uang sebanyak itu harus dibagi untuk makan bersama Yulie, Holik, dan empat anak mereka.

"Saya membawa 15 data Kepala Keluarga (KK), 5 saya bawa kembali karena saya tidak termasuk dalam kategori, termasuk Pak Holik, karena status pekerjaannya sebagai petugas kebersihan. Saya membawa file itu ke Kesejahteraan Sosial, saya mengatakan kepada file almarhum saya bawa lagi, "kata Agus seperti dikutip Liputan6.com.

Agus menjelaskan bahwa bantuan telah datang ke keluarga Yulie Nuramelia sejak Sabtu 18 April 2020, setelah media melaporkan bahwa keluarga itu menahan lapar dengan minum air galon selama dua hari. Bantuan diberikan langsung ke Yulie oleh relawan.

"(bantuan dari pemerintah) belum ada, pada hari Sabtu, ada banyak bantuan datang di sore hari," jelasnya.

Agus Jakaria menjelaskan bahwa adik laki-laki Yulie telah memberitahunya, almarhum mengalami sakit kepala pada hari Minggu 19 April 2020 dan tidak bisa tidur di malam hari. Kemudian pada hari Senin, 20 April 2020 sekitar jam 3 sore, Yulie menghembuskan nafas terakhir.

"Saya ngobrol dengan saudara perempuannya, ada keluhan di kepala saya, kurang tidur," kata Pak (petugas) Puskesmas (ingin bertemu dengan saudara perempuannya) untuk wawancara dengan saudara perempuannya, ingin tahu keluhannya (almarhum), "jelasnya.

Sebelumnya dilaporkan bahwa Yulie dan suaminya, Mohamad Holik, bersama empat anak mereka kelaparan dan harus minum air galon selama dua hari. Setelah banyak beritanya, banyak membantu keluarga almarhum. Hingga akhirnya Yulie menghembuskan nafas terakhir pada hari Senin, 20 April 2020 sekitar pukul 15.00 (brilio.net/artikelasli)

__Terbit pada
22 April 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *