Ningsih Tinampi Menjual Obat Penyembuh Corona, Ini Tanggapan Pemerintah Provinsi Jawa Timur


Viralmedia.Fun – Ningsih Tinampi menjual obat yang ia klaim dapat menyembuhkan Corona seharga Rp 35 ribu. Kepala Kelompok Penanganan Kuratif Jawa Timur COVID-19, Dr. Joni Wahyuhadi mengatakan obat harus diuji melalui 2 pendekatan.

"Jadi di sini ada 2 pendekatan ilmiah dan non-ilmiah untuk menentukan obat untuk menyembuhkan penyakit," kata Joni di Grahadi, Selasa (21/4/2020).

Joni menjelaskan pendekatan ilmiah bahwa penemuan obat harus melalui fase panjang. "Meski begitu lama, sehingga orang-orang tertentu tidak gemuk (sabar)," jelasnya.

Untuk pendekatan non-ilmiah, Joni menjelaskan bahwa kadang-kadang obat tersebut memiliki efek samping. Namun pada prinsipnya, virus dapat menyembuhkan dirinya sendiri.

"Non-ilmiah juga kadang memiliki efek samping, kadang tidak. Tapi prinsipnya wabah virus di mana-mana bisa sembuh sendiri. Yang harus dipahami adalah virus itu adalah penyakit yang sembuh sendiri," katanya.

"Jadi itu masalah jika virus membuat orang berisiko, orang tua, sistem kekebalan tubuh lemah memiliki penyakit kronis seperti diabetes, obesitas, paru-paru kronis," tambahnya.

Direktur Rumah Sakit Umum Soetomo menjelaskan bahwa karena virus adalah penyakit yang sembuh sendiri, kadang-kadang seseorang yang memiliki virus dan diberi obat akan sembuh sendiri. Maka dinilai obatnya bisa menyembuhkan.

"Karena virus dapat menyembuhkan dirinya sendiri, maka orang memberikan obat kepada pasien yang sakit dan sembuh, dianggap menyembuhkan. Kemudian membuat testimonial, yang berkembang di masyarakat kemudian dianggap sembuh," katanya.

"Jadi jika obat-obatan medis memerlukan kondisi tertentu melalui teori yang baik, yang dapat diterima. Kemudian percobaan di laboratorium, kemudian dicoba pada hewan, hanya bisa diuji pada pasien," tambahnya.

Sementara Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa mengakui bahwa ia menerima banyak tawaran obat untuk menyembuhkan COVID-19.

"Banyak orang yang menawarkan obat COVID-19 pemerintah provinsi, mulai dari memberi obat sampai brosur. Tapi kami melihat produknya, bagaimana dengan izinnya, bahannya dan kemudian izin distribusi. (Detikcom / artikelasli)

__Terbit pada
21 April 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *