MUI Mengeluarkan Fatwa tentang Dana Zakat di Mei untuk Penanggulangan Covid-19

MUI

* Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Komisi Fatwa mengeluarkan Fatwa Nomor 23 Tahun 2020 Tentang Pemanfaatan Zakat, Infaq, dan Shadaqah untuk Mencegah Covid-19 dan Dampaknya. (Foto: MUI)

Jakarta, Viralmedia.Fun
Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Komisi Fatwa mengeluarkan Fatwa Nomor 23 Tahun 2020 Tentang Pemanfaatan Zakat, Infaq, dan Shadaqah untuk Pencegahan Covid-19 dan dampaknya.

Baca juga:

Tangkal Covid-19, MUI Mendukung Istighotsah dan Dzikir Nasional

Ma & # 8217; ruf Amin Minta MUI Segera Terbitkan Haram Mudik Fatwa

Sekretaris Komisi Fatwa MUI KH Asrorun Niam Sholeh mengatakan, fatwa itu ditetapkan di Jakarta saat rapat paripurna Komisi Fatwa pada 16 April 2020. Setelah melalui serangkaian finalisasi dan disetujui oleh Ketua Komisi Fatwa MUI dan Dewan Pimpinan MUI secara resmi dikeluarkan pada Kamis (23/4/2020).

Asrorun menjelaskan, fatwa ini dikeluarkan dalam konteks menegaskan komitmen dan kontribusi keagamaan untuk penanganan dan penanganan wabah Covid-19.

Untuk alasan ini, Komisi Fatwa MUI melakukan ijtihad dan menetapkan fatwa sehingga zakat, infaq, dan sedekah dapat dimanfaatkan secara optimal dalam mengatasi masalah yang disebabkan oleh wabah Covid-19.

"Termasuk masalah kelangkaan APD, masker, kebutuhan dasar masyarakat terdampak," kata Asrorun di Jakarta dalam keterangan tertulis yang diterima obsessionnews.com, Jumat (24/4).

Berikut ini adalah isi lengkap dari Fatwa MUI No. 23 Tahun 2020 tentang Pemanfaatan Zakat, Infaq, dan Aset Shadaqah untuk Penanggulangan Covid-19 dan Dampaknya.
Aturan hukum:

1. Pemanfaatan aset zakat untuk mengatasi wabah Covid-19 dan dampaknya, undang-undang tersebut dapat sebagai berikut:

Sebuah. Distribusi langsung zakat ke mustahik dengan ketentuan sebagai berikut:

1). Penerima adalah salah satu kelompok (asnaf) dari zakat, yaitu miskin, miskin, amil, mualaf, yang berhutang, riqab, ibn sabil, dan / atau fi sabilillah;

2). Zakat yang didistribusikan dapat berupa uang tunai, makanan pokok, kebutuhan medis, modal kerja, dan sesuai dengan kebutuhan mustahik

3). Pemanfaatan aset zakat mungkin produktif, antara lain, untuk merangsang kegiatan sosial ekonomi miskin yang terkena dampak wabah.

b. Distribusi untuk kepentingan umum, dengan ketentuan sebagai berikut:

1) Penerima manfaat termasuk dalam kelompok (asnaf) fi sabilillah

2) Pemanfaatan dalam bentuk aset yang dikelola atau layanan untuk kepentingan publik, terutama manfaat mustahik, seperti untuk penyediaan peralatan perlindungan pribadi, desinfektan, dan obat-obatan serta kebutuhan relawan yang ditugaskan untuk melakukan kegiatan kemanusiaan dalam pencegahan epidemi.

2. Zakat mal dapat dipenuhi dan didistribusikan lebih cepat (ta‘jil al-zakah) tanpa harus menunggu setahun penuh (angkut), jika telah mencapai nishab.

3. Zakat fitrah dapat dipenuhi dan dibagikan sejak awal Ramadhan tanpa harus menunggu malam Idul Fitri.

4. Kebutuhan untuk mengatasi wabah Covid-19 dan dampaknya yang tidak dapat dipenuhi melalui zakat, dapat diperoleh melalui donasi, sedekah, dan donasi halal lainnya. (arh)

__Terbit pada
24 April 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *