Mereka mengatakan bahwa bulan puasa Setan dibelenggu, tetapi mengapa masih ada ketidaktaatan? | Viralmedia.Fun

title=Api-1024x640/

Jakarta, Viralmedia.Fun – Saat memasuki bulan suci Ramadhan itu sering terdengar berbagai macam kearifan dan kebajikan. Seseorang yang telah menghafal dalam pikiran kita adalah, jika bulan Ramadhan tiba, maka gerbang surga akan dibuka, dan iblis akan dibelenggu.

Ini sesuai dengan hadis Nabi yang diriwayatkan Imam Muslim Yahya bin Ayyub, Qutaibah, dan Ibn Hajar yang berbunyi:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ ، وَصُفِّدَتِ

Artinya, "Jika bulan Ramadhan tiba, maka gerbang surga dibuka, gerbang neraka ditutup, dan setan-setan terganggu."

Tetapi sekarang muncul pertanyaan, jika di bulan Ramadhan iblis dibelenggu, mengapa masih ada ketidaktaatan di bumi ini? Atau bahkan kita sendiri masih melakukan ketidakpatuhan selama bulan Ramadhan. Jika tidak ada yang menggoda, semua manusia harus patuh.

Untuk menjawab pertanyaan ini, Ustadz M Tatam, Pengasuh Majelis Taklim Syubbanul Muttaqin, Sukanagara-Cianjur, Jawa Barat, mengatakan para ulama hadits sendiri memiliki pendapat yang beragam. Al-Halimi yang dikutip oleh Badruddin Al-Aini dalam ‘Umdatul Qari mengatakan, mungkin saja hadits itu berarti Setan selalu mencuri informasi selestial.

Namun, selama bulan suci Ramadhan, mereka tidak dapat melakukan itu karena mereka dibelenggu, termasuk menggoda manusia. Seperti diketahui, saat Al-Quran diturunkan, mereka selalu dicegah mencuri wahyu yang turun. Itu terjadi antara lain untuk menjaga keaslian wayhu.

"Atau mungkin, hadits ini bermakna, di bulan Ramadhan Setan tidak terlalu bebas untuk menggoda manusia seperti pada bulan-bulan lainnya karena kesibukan manusia berpuasa, membaca Al-Qurnan, zikir, dan sebagainya," Ustadz M. Tatam kata dalam artikel lepasnya.

Dengan demikian, istilah "dibelenggu" katanya, menjadi ekspresi kelemahan Setan dalam memanipulasi, menggoda manusia, dan mempercantik nafsu manusia.

Ada juga kata katanya, menurut Abu Muhammad penulis Kitab ‘Umdatul Qari, menjelaskan bahwa Setan dibelenggu pada bulan itu hanya untuk orang yang berpuasa yang menjaga kondisi, harmoni, dan perilaku. Ada juga yang berpendapat bahwa iblis yang dibelenggu hanya sebagian darinya, tidak semuanya.

"Jadi, tujuan dari hadits ini hanya untuk membatasi ruang setan dan jin jahat. Itu juga dilakukan oleh orang-orang yang berpuasa. Kemudian, belenggu Setan tidak berhubungan langsung dengan kejelekan dan ketidaktaatan manusia," jelasnya. .

Sebab, pada manusia masih ada pemicu atau pendorong sifat buruk lainnya, yaitu nafsu, kebiasaan buruk, atau yang disebut setan manusia. Terkadang, tanpa Setan, kebiasaan buruk akan mendorong orang untuk berbuat jahat.

Tetapi ada juga yang menafsirkan ungkapan hadits sebagai kiasan, seperti Abu ‘Umar Yusuf Al-Qurthubi. Dia berkata, "Menurut saya, makna & # 39; dibelenggu & # 39; ada majaz (kiasan). Artinya, Allah yang tahu, Allah selalu menjaga umat Islam yang taat di bulan Ramadhan dari godaan Setan sehingga mereka mampu menghindari ketidaktaatan.

Dengan demikian, kata Ustadz, gagasan Setan yang dibelenggu dalam hadits tidak dapat dipahami secara harfiah sepenuhnya. Mayoritas ulama hadits bahkan menafsirkannya secara kiasan. Artinya, iblis dibelenggu dan ruangnya dibatasi oleh mereka yang berpuasa dengan selalu memenuhi kondisi, harmoni, dan tata krama.

Pada saat yang sama, Tuhan melindungi mereka dari perbuatan tercela. Karena itu, cobalah untuk menjauh dari kebiasaan buruk, menjauh dari setan manusia, dan mengendalikan nafsu yang sering ditumpangi oleh setan pada manusia yang menyesatkan.

"Jangan lupa untuk meminta perlindungan dari Allah SWT dari keburukan makhluk terkutuk itu," katanya. (Albar)

__Terbit pada
27 April 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *