Menolak Pemakaman | Viralmedia.Fun

Oleh: Abdul Mu & # 39; ti (Sekretaris Jenderal PP Muhammadiyah)

Penolakan pemakaman Covid-19 tetap lagi. Kali ini di sebuah desa di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Kejadian ini menjadi viral dan menjadi masalah nasional karena yang ditolak adalah tubuh perawat yang meninggal karena tertular virus korona dari pasien yang dirawat.

Penolakan tidak bisa dibenarkan. Islam mengajarkan umat Islam untuk menghormati dan memenuhi hak-hak orang lain, baik saat hidup atau setelah mati.

Ketika seseorang meninggal, ada empat hak wajib yang harus dipenuhi, yaitu harus dimandikan, dikfani, halhal, dan dimakamkan. Pemenuhan tersebut mencakup, pertama, menyediakan kebutuhan yang terkait dengan keempat hak tersebut, termasuk pembiayaan jika keluarga atau ahli waris tidak bisa.

Kedua, atur sebaik-baiknya agar semua prosesi berjalan sesuai dengan prinsip Syariah. Selain kewajiban spiritual ini, Islam mengajarkan semua muamalah sebagai kewajiban sosial juga terpenuhi.

Antara lain soal utang, mengurus keluarga, terutama anak yatim, jual beli, dan urusan muamalah lainnya. Seseorang yang mati, apa pun kondisinya, adalah makhluk Tuhan yang mulia dan dimuliakan sebagai syari'ah yang merawat tubuh.

Kuburan itu berasal dari kata "makam". Secara etimologis, istilah "kuburan" berasal dari bahasa Arab, yaitu "maqam". Maqam secara harfiah berarti tempat tinggal atau tempat untuk berdiri. Dalam arti luas, maqam berarti posisi terhormat.

Maqam (maqamat) dalam tasawuf adalah perjalanan seorang hamba ke posisi tertinggi di hadapan Tuhan. Oleh karena itu, istilah kuburan (maqam) bukan hanya proses memasukkan tubuh ke dalam liang tetapi mengirimkannya ke tempat istirahat yang dihormati.

Apa pun kondisi mayat harus tetap dimuliakan, meskipun tubuh fisiknya sudah rusak. Mereka yang meninggal dengan tubuh berlumuran darah karena mati syahid dikuburkan meskipun tertutup darah. Itu adalah syahid dunia dan akhirat.

Mereka yang mati karena penyakit dan wabah penyakit adalah martir di akhirat, apalagi demi menyelamatkan manusia lain dari kematian. Posisi mereka sangat terhormat di hadapan Tuhan. Mereka adalah pahlawan kehidupan dan kemanusiaan.

Menurut hadits, para ahli sepakat, mereka yang meninggal karena menyelamatkan pasien Covid-19 adalah shahid dunia. Jika selama hidupnya ia melakukan perbuatan baik, Allah membuka gerbang surga dan membentangkan "karpet merah": udhuluha bi salam al-aminin (Surat al-Hijr (15): 46).

Oleh karena itu, sangat tidak dapat dipahami mengapa sekelompok orang menolak pemakaman jenazah Covid-19, apalagi dia adalah seorang perawat pasien korona.

Komunikasi Publik

Banyak faktor di balik penolakan pemakaman. Kemungkinan kecil karena faktor agama. Yang sangat mungkin karena rasa takut yang berlebihan dari wabah Covid-19. Ketakutan itu karena kurangnya pendidikan dan komunikasi yang benar.

Selama waktu ini, penjelasan pihak berwenang tentang Covid-19 tidak lengkap dan cenderung menakutkan. Pemerintah selalu Sebuah pembaharuan pengembangan Covid-19.

Sayangnya, yang sering disebut adalah meningkatnya jumlah kasus orang di bawah pengawasan (ODP), pasien di bawah pengawasan (PDP) dan kematian. Semakin banyak kasus menyebabkan ketakutan massal.

Ketakutan meningkat menjadi panik. Beberapa orang bahkan paranoid. Pertama, kurangnya soliditas dan solidaritas sosial dan keragaman masyarakat. Gejala individualisme dan egoisme semakin meningkat. Ini adalah masalah sosial yang serius.

Kedua, liputan media massa dan media sosial yang tidak benar. Pelaporan Covid-19 di seluruh dunia membuat mereka semakin takut. Ketakutan meningkat dengan kelangkaan obat-obatan, peralatan perlindungan pribadi, harga masker dan kebutuhan keselamatan pribadi lainnya yang mahal.

Kecenderungan perlindungan diri dan bertahan hidup inilah yang membuat masyarakat menjadi rejectionist: tolak sesuatu yang dianggap mengancam dan berbahaya. Ketiga, kurangnya koordinasi antara pihak berwenang dan tokoh masyarakat. Selama masa ini, pemerintah tampaknya berjalan sendiri dan menyelesaikan masalah dengan mempromosikan aspek kesehatan dan ekonomi saja.

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Semarang mengatakan, "Jika kita dikonsultasikan sejak awal, penolakan itu tidak akan terjadi." Pernyataan itu menunjukkan kurangnya komunikasi dengan para sarjana.

Oleh karena itu, menghadapi kemungkinan peningkatan pandemi Covid-19 diperlukan tiga langkah strategis. Pertama, meningkatkan kualitas dan intensitas komunikasi antara pemerintah dan semua lapisan masyarakat termasuk para pemimpin agama.

Kedua, kebijakan perusahaan disertai dengan koordinasi antara lembaga pemerintah di tingkat pusat dan daerah. Masyarakat melihat bahwa sinergi Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) dan Kementerian Kesehatan belum baik.

Ketiga, membangun kepercayaan masyarakat dengan penanganan yang lebih baik, perlindungan keamanan, dan jaminan sosial yang realistis. Masyarakat semakin panik dan muak dengan retorika.

Mereka yang menolak pemakaman adalah korban dari komunikasi dan pendidikan yang tidak patut. Kita semua sedih. Sulit membayangkan bagaimana keluarga perawat yang berduka yang pengalaman komunitasnya ditolak. Setelah tubuh perawat dimakamkan, urusan agama selesai. Insya Allah, perawat itu tersenyum gembira melihat pintu surga terbuka baginya.

Namun, tugas berat kami belum selesai. Bersama-sama mengobati yang sakit dan mencegah wabah agar tidak menular. Sudah saatnya bagi kita untuk meningkatkan komunikasi dan sinergi sehingga Covid-19 tidak menjadi pandemi sosial-politik yang meruntuhkan kehidupan bangsa.

__Terbit pada
15 April 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *