Mencari Berkat dari Bau Sampah, Wawan Bekerja Keras untuk Mendukung Keluarga

Bau sampah yang menyengat, bagi Henry (44) bukanlah sesuatu yang buruk. Tetapi karena ini adalah satu-satunya pekerjaan yang dapat mendukung seorang anak, ia hanya melakukannya dengan sepenuh hati.


Viralmedia.Fun | BANDUNG- Laki-laki, warga Baloper RT 3 RW 23, Desa / Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, bahkan santai dalam menghadapi ancaman Virus Copid-19. Namun menurutnya ada salah satu rekan kerjanya yang adalah Covid-19 Virus Monitoring Person (ODP) dan sekarang mengisolasi dirinya sendiri.

"Abdi mah langkong sieun I Gusti Allah, keterlibatan saya Corona (saya lebih takut pada Tuhan, daripada takut pada Corona)," canda dia, saat dia mengangkat sampah ke truk, Kamis (30/4/2020) sekitar Perum Batujajar Indah, Kabupaten Batujajar.

Dia mencoba berpikir positif dengan mengabaikan ketakutan tentang bahaya Covid. Ancaman yang lebih ditakuti adalah istri dan dua anaknya yang masih kelaparan.

Meskipun gaji bulanan yang diterimanya setiap bulan hanyalah pas-pasan, Henry kembali santai untuk bereaksi. "Sasasih tilu juta. Ya, pami sedang dipegang erat, pami henteu saleuresna henteu (Sebulan tiga juta rupiah. Kalau cukup sudah, kalau tidak cukup, kalau tidak cukup)," katanya, sambil tangannya terus menghentikan sampah di truk.

Uang yang diterima sebagai tenaga kontrak di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kantor Layanan Lingkungan KBB setiap bulan, termasuk biaya kontrak rumah sebesar Rp. 600.000. Sisanya untuk makanan dan kebutuhan sehari-hari lainnya. “Yang penting dapurnya mengepul.” Kakiranganna seperti teh kami, timana kami pura-pura rezekina. (Kekurangannya adalah itu, dari mana saja karena seperti ada rezeki), "kata Henry.

width=300
Para pemulung mencari berkah dari bau tajam sampah (Foto: Heni Suhaeni / Viralmedia.Fun)

Bagi Wawan, ukuran gaji yang diterimanya bukan ukuran. Namun dia berharap gajinya tepat waktu. Karena itu satu-satunya sumber keuangan keluarga.

"Gaji Pami sudah terlambat, jadi kekuatan pelayan sudah membuat hutang ke heula (jika gajinya terlambat, maka saya harus berutang dulu," jelasnya.

Anehnya, meski hidupnya biasa-biasa saja, ketika orang lain menerima bantuan makanan, Henry mengaku tidak pernah menerimanya. "Teu aya, mantra kantor teu. Duka rupina Pak RT ge bingungeun da bantosanna mungkin sakeudik. Ari nu peryogina seueur (tidak, tidak pernah menerima. Jangan tahu, mungkin Pak RT juga bingung karena ada sedikit bantuan Sedangkan mereka yang sangat membutuhkannya, "kata Wawan, sambil berpamitan melanjutkan perjalanan mengangkut sampah ke TPA Sarimukti.

Editor: Maji

__Terbit pada
30 April 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *