Lean, Maka Harus Lewatkan | Viralmedia.Fun

Oleh: Habib Abdul Rahman Al-Habsyi (Dewan Sahabat Iman)

Puasa mengajarkan kita bahwa Allah adalah bagian belakang kehidupan manusia.

Kebutuhan manusia akan monoteisme (Iman kepada Allah SWT) jauh lebih besar daripada kebutuhannya untuk segalanya.

Ketika manusia membutuhkan makanan dan minuman, kebutuhan manusia akan monoteisme dan iman bahkan lebih besar dan lebih mendesak daripada semua kebutuhan.

Karena sesungguhnya kebaikan seorang manusia hanya akan diwujudkan dengan perbudakan dan kepatuhan kepada Rabb-nya, yaitu Allah Zza azza wa jalla.

Tuhan selalu menyertai dalam keadaan apa pun. Sedih, susah, bahagia, bahagia, bahkan kesal.

Jika kita merasa bahwa nasib tidak seperti yang diharapkan, maka kita menyalahkan Tuhan dan menghukumnya secara tidak adil, tetapi mencoba mempelajari kebijaksanaan di baliknya. Mungkin kita lupa menuai kebijaksanaan dalam setiap kasus.

Ketika kita merindukan Tuhan apakah kita pernah berhasrat untuk bertemu dengannya segera? Bahkan yang lebih sering, perasaan yang kita miliki hanya sederhana est, meskipun Tuhan adalah Essence yang telah memberi kita rasa untuk mencicipi rasa yang dikatakan merindukan, tetapi setelah kita mulai merasa nyaman dengan itu kita melupakan Dia, kita lupa untuk merindukan Dia. Terlebih lagi, kita kehilangan MakhlukNYA. Sungguh kita juga—

Meskipun Tuhan tahu bahwa hati kita jarang merindukan Dia, Dia tidak pernah sekalipun meminta berkat yang telah diberikan kepada kita, Tuhan tetap menanamkan kerinduan itu kepada kita, meskipun kita tidak pernah bersyukur.

قال شقيق بن إبراهيم: وافقني الناس في أربعة أشياء قولا, وخالفوني فيها فعلا: أحدها أنهم قالوا: إنا عبيد الله تعالى, ويعملون عمل الأحرار, والثاني قالوا: إن الله كفيل لأرزاقنا, ولا تطمئن قلوبهم إلا مع شيء من الدنيا, والثالث قالوا: إن الآخرة خير من الدنيا, وهم يجمعون المال للدنيا, والرابع قالوا: لا بد لنا من الموت, ويعملون أعمال أونا وولا

Abu Al-Laits as-Samarkandi dalam Tanbih al-Ghafilin mengutip kata-kata Syaqiq bin Ibrahim: "Ada empat kesamaan dalam pendapat manusia dengan saya, tetapi berbeda dalam mempraktikkannya.

Pertama, mereka berkata: Kami adalah hamba Tuhan, tetapi mereka melakukan pekerjaan majikan.

Kedua, mereka mengatakan bahwa Allah telah menjamin nasib baik, tetapi hati mereka tidak tenang ketika tidak ada uang.

Ketiga, mereka mengatakan akhirat lebih penting daripada dunia, tetapi mereka mengumpulkan kekayaan untuk urusan dunia.

Keempat, mereka mengklaim telah mati, tetapi mereka melakukan tindakan orang-orang yang tampaknya tidak pernah mati.

Selamat untuk menjadi hamba-Nya, puasa bahagia.

__Terbit pada
27 April 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *