Kisah Paul Pogba Tentang Islam dan Kemanusiaan | Viralmedia.Fun

title=IMG_20200429_095354/

Jakarta, Viralmedia.Fun – Sebagai pemain sepak bola dunia, Paul Pogba sering mendapat diskriminasi rasial. Pogba, yang merupakan keluarga imigran dari Afrika, khususnya Guinea, menjadikan dirinya sering menjadi sasaran ekspresi kebencian dari orang-orang di sekitarnya. Bahkan, dia tidak diizinkan bermain sepakbola karena kulit hitam.

Cibiran melawan Pogba bukan hanya ketika ia masih kecil dan memulai karirnya sebagai pemain sepak bola. Bahkan ketika ia telah menjadi sentimen Tim Nasional Prancis dan Manchester United (MU) terhadapnya yang merupakan warga kulit hitam dari keluarga Afrika masih diremehkan.

Meski begitu, Pogba tidak peduli dengan semua pandangan negatif yang diarahkan padanya. Ya, Pesepakbola yang bernama lengkap Paul Labile Pogba lahir di Lagny-sur-Marne, Prancis, pada 15 Maret 1993. Pogba adalah orang yang masuk Islam meskipun ibunya adalah seorang Muslim.

Mantan gelandang Juventus ini memutuskan untuk memeluk Islam sejak beberapa tahun lalu sendirian. Islam untuk Pogba telah memberikan pencerahan dalam perjalanan hidupnya.

"Ini adalah perubahan yang baik untuk hidup saya. Saya tidak terlahir sebagai Muslim meskipun ibu saya adalah seorang Muslim," kata Pogba dalam sebuah percakapan dengan The Times.

Dia juga tidak pernah berubah dalam menanggapi setiap kritik yang terkadang mengarah pada masalah rasial. Gelandang yang membantu membawa juara Piala Dunia 2018 Prancis menganggap dirinya seperti anak kecil yang hanya ingin selalu bahagia.

"Saya memperlakukan kritik yang ditujukan kepada saya seperti ketika saya masih kecil dan bermain di gang. Ketika mereka mengatakan Anda buruk, saya tidak pernah mendengarnya. Saya hanya ingin bersenang-senang," kata Paul Pogba , dikutip oleh The Guardian.

Itu dia tunjukkan di Piala Dunia 2018 di Rusia sambil membantu Prancis memenangkan gelar. Penampilannya di pertandingan penting, termasuk di final melawan Kroasia, disebut luar biasa, meskipun ia sering dikritik di awal turnamen. Tapi dia, masih bodoh.

Tindakan mengesankan yang Pogba tunjukkan membuat banyak orang menilai dia sebagai tokoh penting dalam pasukan Les Blues. Pogba dianggap sebagai pemain yang mampu mengubah kritik menjadi kekuatan.

"Dia telah menunjukkan kepada kita bagaimana dia melakukannya, tetapi Paul Pogba adalah orang yang kuat," kata Adil Rami, kolega Pogba di tim nasional Prancis yang juga Muslim.

"Dia telah menjadi pemimpin di tim nasional Prancis, tetapi awalnya menerima banyak kritik," tambah bek yang telah memperkuat Valencia, AC Milan dan Sevilla.

Agama Kemanusiaan Islam

Bukan hanya kritik atas penampilannya di lapangan, yang mampu dijadikan kekuatan oleh Paul Pogba untuk mengubah keadaan.

Ketika terorisme pada 2017 melanda Inggris, itu mengubah persepsi publik Inggris yang pernah mengalami Islamofobia.

Dilansir dari Manchester Evening News, Paul Pogba mengutuk tindakan terorisme yang menewaskan 22 orang. Dia menegaskan bahwa Islam tidak mengajarkan manusia untuk membunuh, juga agama-agama lain di dunia.

"Anda tentu tidak dapat membunuh manusia, karena itu adalah tindakan gila. Membunuh atas nama agama, apakah Islam atau sesuatu yang lain tidak benar, dan semua orang mengerti itu," kata Paul Pogba seperti dikutip oleh Manchester Evening News.

"Ketika kamu kehilangan orang yang kamu cintai, tentu saja kamu tidak ingin kehilangannya dengan terbunuh. Karena aku tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang kucintai," tambahnya.

Pogba menekankan bahwa pilihannya untuk memeluk Islam bukan tanpa alasan. Dia telah melakukan serangkaian pengamatan dan penelitian sebelum memutuskan untuk masuk Islam dan menjalani ibadah seperti Muslim lainnya.

"Anda harus sholat lima kali sehari, itu adalah salah satu rukun Islam. Itu artinya, Anda meminta pengampunan dan bersyukur atas semua yang Anda miliki, seperti kesehatan dan lainnya," kata Pogba kepada The Times.

"Bagi saya, Islam benar-benar agama yang membuka pikiran dan itu membuat saya, mungkin, menjadi orang yang lebih baik. Anda akan lebih memikirkan kehidupan setelah Anda mati," tambahnya.

Sekali lagi, Pogba menekankan bahwa terorisme bukanlah Islam. Ajaran Islam menghormati semua makhluk Tuhan, terutama umat manusia tanpa mengakui hambatan perbedaan yang justru akan melemah.

"Aku menghormatimu apa pun agamamu, apa pun warna kulitnya, dan hal-hal lain. Begitulah Islam, menghormati kemanusiaan dan segalanya," kata Pogba. (Albar)

__Terbit pada
29 April 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *