Gus Baha: Tidak Bisa Memberi Tahu Sedikit Mencerminkan Sang Nabi | Viralmedia.Fun

title=1586752590130/

Jakarta, Viralmedia.Fun – Sebagai Muslim yang taat, perlu untuk mengikuti apa yang diperintahkan dalam Syariah Islam dan meninggalkan apa yang dilarang. Tetapi dalam menjalankan syariat Islam, itu tidak berarti bahwa seorang Muslim harus meniru Allah atau meniru semua yang dilakukan oleh Rasulullah.

Dalam sebuah studi rutin buku Jalalain Tafsir di Yogyakarta tentang Shod Vers 48-88 yang dipelajari oleh KH Bahaudin Nursalim atau lebih dikenal dengan Gus Baha, ia mengatakan bahwa dalam menjalankan Syariah Islam orang harus mengikuti makhluk (bukan kholiq ) yaitu para nabi, yang kemudian diwariskan oleh para ulama sebagai ahli waris Nabi.

"Untuk sampai ke jalan Allah, suka atau tidak kita harus meniru makhluk. Jadi salah jika ada orang yang mengatakan sedikit untuk bergabung dengan Pengeran (Allah), (karena) si Pengeran tidak makan dan tidak minum, "kata Gus Baha baru-baru ini.

Yang mengatakan Gus Baha, dapat diamati dalam Surah al-Fatihah dalam ayat ketujuh, dinyatakan bahwa ketika orang berdoa dengan Surah al-Fatihah, orang itu meminta jalan lurus ke Allah melalui jalan orang-orang yang telah diberikan bantuan oleh Allah SWT,

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ۙ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيََََََِِْ

"Tunjukkan pada kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Anda berkenan, bukan jalan mereka (yang jahat), dan bukan (juga jalan) dari mereka yang tersesat," kata Gus Baha membaca arti dari Sepotong Surat Al Fatihah.

Menurut Gus Baha, lafaz shirothol ladzina dan amta ‘alaihim harus diganti dengan lafaz shirotoka yang berarti" jalanmu (Allah) ", jika saja umat Islam diharuskan meniru Allah SWT secara langsung. Tetapi ayat tersebut jelas tidak membaca shafotoka lafaz.

Namun, Allah (swt) memerintahkan manusia untuk meniru mereka yang saleh. Karena Allah (swt) memiliki karakteristik yang berbeda dari makhluk dan tidak boleh ditiru, seperti dalam Surat as-Shura ayat 11,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىءٌ
"Dia (Allah) tidak menyerupai apa pun dari makhluk-Nya (dalam segala hal)".

Selain itu, Gus Baha juga mengatakan bahwa sebagai Muslim kita tidak bisa hanya mengatakan "Kami mengikuti Nabi."

Mengapa demikian, karena Nabi Muhammad akan selalu berada dalam kebenaran, tetapi sejarah yang dikaitkan dengannya belum tentu benar. Misalnya sejarah memang benar tentang Nabi Muhammad. Namun makna yang dipahami seseorang belum tentu benar, karena bisa saja salah.

"Misalnya kamu bisa meniru Nabi, (dalam) shalat qobliyahnya. (Shalat) qobliyahnya mengikuti Nabi, bingkainya meniru Nabi, (shalat) Ba'i-nya; diyahnya meniru Nabi. Nanti jika tidak ada sejarah , Nabi tinggal di Mekah dan Madinah, mengapa Anda tidak tinggal di Mekah dan Madinah? "kata Gus Baha, yang disambut oleh tawa dari jemaah.

Dalam memahami apa yang mungkin ditiru oleh Nabi Muhammad SAW, dibutuhkan para ulama yang memiliki kapasitas untuk melakukan jihad. Kalau saja tanpa ulama, umat Islam saat ini tentu tidak akan memiliki hubungan ilmiah yang mencapai Nabi Muhammad.

"Jika Sunnah Rasul ditafsirkan secara sepihak, maka Anda harus tinggal di Madinah. Jadi jika ada Muslim yang belum pernah ke Madinah, (dia) akan dianggap tidak mengikuti Sunnah Nabi," jelas Gus baha.

Dalam pembukaan Muslim Shohih, Abdullah bin al-Mubarok mengatakan tentang pentingnya sanad atau keterhubungan suatu ilmu,

الإسناد من الدين ولولا الإسناد لقال من شاء ماشاء عن عبدالله بن المبارك رضي الله عنه أنه قال:

"Dari Abdullah bin al-Mubarok, dia berkata: Sanad adalah bagian dari agama. Jika tidak ada sanad, benar-benar seseorang akan mengatakan apa pun yang dia inginkan." Allah tahu yang terbaik. (Albar)

__Terbit pada
13 April 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *