Duduk pada Jumat Pembubaran pada Doa Jumat, Dilaporkan oleh Ibu Camat


Viralmedia.Fun – Sholat Jum'at di Masjid Ar Rahma, Cappa Ujung, Ujung, Kota Parepare, dibubarkan untuk mencegah penyebaran virus Corona (COVID-19). Tidak diterima, warga melaporkan Ujung Camat ke polisi.
"Hanya dilaporkan, warga ini mengeluh karena dibubarkan (saat salat Jumat). Ya itu benar, ada insiden pembubaran, ia mengadakan ibadah terus dibubarkan," kata Humas Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan. Komisioner Ibrahim Tompo saat dihubungi AFP, Kamis (30/4/2020).

Polisi masih menyelidiki kasus ini dengan memeriksa sejumlah saksi.

Sementara itu, Ujung Camat, Kota Parepare, Sulawesi Selatan (Sulawesi Selatan), Ulfah Lanto, telah mengklarifikasi bahwa dia bukan orang yang membubarkan shalat Jumat.

Berikut ini kasus pembubaran hari Jumat yang menyebabkan pelaporan Ny. Camat:

Awal Acara

Komisaris Humas Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan Ibrahim Tompo mengatakan bahwa bupati dengan inisial UL di Kota Parepare, Sulawesi Selatan, dilaporkan ke polisi setelah membubarkan salat Jumat di masjid setempat. UL melaporkan tuduhan penistaan.

"Hanya dilaporkan, warga ini mengeluh karena dibubarkan (saat salat Jumat). Ya itu benar, ada insiden pembubaran, ia mengadakan ibadah terus dibubarkan," kata Humas Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan. Komisioner Ibrahim Tompo saat dihubungi AFP, Kamis (30/4/2020).

Ibrahim menjelaskan bahwa dugaan insiden pembubaran Jumat yang diduga dilakukan terjadi di Masjid Ar Rahma, Cappa Ujung, Kabupaten Ujung, Kota Parepare, pada 17 April 2020. Camat dikatakan dibubarkan karena khawatir bahwa orang-orang akan terinfeksi virus Corona yang bersifat epidemi. Polisi mengatakan bahwa bukan bupati yang langsung bubar.

Namun belakangan ini ada warga yang tidak puas dengan tindakan Camat dan membawa masalah tersebut ke ranah hukum. Tindakan administrator kecamatan juga ramai di media sosial.

"Pembubaran hanya satu orang yang masuk (ke masjid) dan itu bukan Bupati, ya, hanya berteriak di bongkar & # 39 ;," katanya.

Ibrahim mengatakan bahwa laporan polisi tentang Bupati diterima oleh Kepolisian Daerah Parepare pada Senin (26/4).


Tujuannya adalah untuk Menyelamatkan Warga dari Corona

Polisi kemudian menyelidiki laporan itu.

"Kalau begitu kita akan memperdalamnya," kata Kepala Humas Polda Sulsel Ibrahim Tompo saat dihubungi AFP, Kamis (30/4/2020).

Ibrahim mengatakan, dari penelitian sementara, sejauh ini belum ditemukan unsur kriminal dari peristiwa pembubaran tersebut. Alasannya adalah tindakan Camat pada waktu itu didasarkan pada kekhawatiran bahwa warganya akan terinfeksi virus Corona yang bersifat epidemi, tidak dimaksudkan untuk menodai agama.

"Dalam pendalaman awal, niatnya bukan polusi agama, dia melakukan pembubaran dengan maksud menyelamatkan warga dari pecahnya COVID. Jadi niatnya sudah baik, kok," kata Ibrahim.


Namun, Ibrahim mengungkapkan bahwa Kepolisian Daerah Parepare terus melakukan pendalaman terkait dengan warga & # 39; laporan. Dia mengatakan sejumlah saksi juga telah diperiksa.
"Hanya saksi yang pernyataannya diperiksa, tetapi tidak dalam bentuk BAP (berita acara pemeriksaan), hanya pemeriksaan awal. Kemarin kepala polisi mengatakan ada 4 jamaah (yang diinterogasi)," kata Ibrahim.


Klarifikasi dari Ny. Camat

Ulfah Lanto, Camat Ujung, Kota Parepare, Sulawesi Selatan (Sulawesi Selatan), berbicara tentang tuduhan penistaan ​​yang ditujukan kepadanya karena membubarkan salat Jumat di masjid setempat. Ulfah menekankan dia bukan orang yang membubarkan shalat Jumat.

"Bukan saya yang masuk masjid berteriak-teriak bubar ke jemaah, tetapi ada 2 tokoh masyarakat setempat yang datang untuk menyampaikan jamaah mendengarkan permohonan Pemerintah," kata Ulfah Lanto ketika dimintai konfirmasi pada hari Kamis. (30/4/2020).

Ulfah menjelaskan, kejadian pada Jumat (17/4) dimulai ketika ia dan sejumlah Satgas COVID-19 di Kabupaten Ujung, seperti polisi militer, Lurah, Kapolsek, Danramil, dan KUA, melakukan pemantauan ke sejumlah masjid di wilayah Kecamatan Ujung, dengan maksud untuk mendesak warga agar tidak sembahyang Jumat karena ada ancaman wabah Corona.

Masjid Ar Rahma atau lokasi keributan yang dimaksud, adalah masjid terakhir yang dikunjungi oleh tim Gugus Tugas COVID-19 hari itu. Tepat pukul 10.30 Wita, Ulfah dan timnya tiba di halaman masjid yang pada saat itu tidak memiliki jamaah. Alhasil, tim mengimbau agar tidak shalat Jumat melalui pengeras suara masjid.

"Di atas sana, pada pukul 10:30 malam, kondisi masjid (Ar Rahma) masih kosong. Jadi saya katakan kepada KUA, & # 39; Pak KUA, sementara masjid masih kosong, tidak ada jamaah, tolong masuk masjid untuk memohon kepada masyarakat melalui pengeras suara bahwa hari ini tidak diadakan shalat Jumat lalu, "kata Ulfah. Dia menjelaskan insiden awal ketika Tim Gugus Tugas COVID-19 tiba di masjid Ar Rahma.

"Namun, hanya doa yang dilakukan, yang menunjukkan bahwa waktu sholat tengah hari telah masuk dan diharapkan semua orang akan kembali ke rumah mereka untuk melaksanakan sholat tengah hari," tambahnya.

Sambil berdiri berjaga di depan masjid, tiba-tiba dua tokoh masyarakat setempat datang. Ulfah mengaku mengenal dua tokoh masyarakat.

Meskipun ada seruan, Ulfah melanjutkan, jemaah terus berdatangan ke masjid. Mereka terus melakukan ibadah Jumat seperti biasa.

Kondisi para jamaah yang terus berdatangan membuat Ulfah dan timnya menutup pintu dan pagar masjid sehingga jamaah tidak bertambah. Kata Ulfah, saat itu timnya memilih berjaga-jaga di depan masjid.

"Melihat bahwa kapasitas di dalam telah meningkat, inisiatifnya adalah POM untuk menutup pintu, pagar, bukan untuk menambah jumlah orang yang datang, kami tidak tahu latar belakangnya, dan dia masuk lagi, semuanya akhirnya ditutup , "kata Ulfah.


"Saya katakan itu juga cocok, Sir, bagi kita yang dijaga, mereka yang belum masuk tidak harus masuk, saya katakan," tambahnya.

"Saya tahu persis orang itu. Dia berkata, Ny. Kepala, apa yang ada di dalam, & # 39; saya jawab & # 39; saya tidak tahu, tuan, sepertinya khotbah," kata Ulfah meniru isi pembicaraannya dengan dua tokoh masyarakat.

Kedua pemimpin komunitas itu kemudian meminta Ulfah untuk diberikan izin untuk tunduk
"Karena orang ini yang saya tahu persis adalah figur publik. Yang lain adalah mantan ketua komite masjid dan donor permanen, jadi saya pikir dia masuk dia didengar oleh publik, jadi saya bilang oh ya kalau kita benar-benar ingin masuk & # 39; tolong mi pak & # 39 ;, akhirnya masuk ini adalah video dari 2 tokoh, "katanya.

"Tepat ketika dia langsung masuk, dia mengangkat tangannya dengan mengatakan" dibubarkan & # 39 ;. Demi Tuhan aku bukan orang yang berteriak & # 39; dibubarkan & # 39; … (Tapi) salah satu tokoh masyarakat ini, tetapi tujuannya masih menarik, ia bertujuan untuk membantu Pemerintah, "pungkas Ulfah

Camat di Kota Parepare, Sulawesi Selatan, dilaporkan ke polisi atas tuduhan penistaan ​​agama. Dia dilaporkan karena dikatakan membubarkan salat Jumat di masjid setempat.
Camat di Kota Parepare, Sulawesi Selatan, dilaporkan ke polisi atas tuduhan penistaan ​​agama. Dia dilaporkan karena dikatakan membubarkan salat Jumat di masjid setempat. Foto: Istimewa
Reporter Tidak Memanggil di tempat kejadian

Reporter Camat kepada polisi karena membubarkan sholat Jum'at di Parepare, Sulawesi Selatan (Sulawesi Selatan), tampaknya tidak ada di lokasi pada saat kejadian. Hal ini dinyatakan oleh pihak yang dilaporkan.

"Laporan itu tidak semuanya di tempat. Karena apa yang saya lihat tidak ada laporan (di tempat kejadian)," kata melaporkan, Camat Ujung, Ulfah Lanto, ketika diminta untuk mengkonfirmasi AFP, Kamis (30/4/2020).

Ulfah mengaku kenal reporter itu. Dia menyebutkan salah satu wartawan ada di sana yang tinggal tidak jauh dari masjid, tetapi tidak berada di tempat ketika Ulfah dan tim Gugus Tugas COVID-19 datang ke masjid.

"Memang, saya tidak melihatnya di sana, ternyata ada satu di antara mereka yang anggotanya ada di samping masjid, yang juga absen, yang dia hadiri seminggu sebelumnya, Jumat. Tapi pada saat kejadian itu dilakukan oleh tokoh masyarakat (berteriak tersebar)) dia tidak ada, "jelas Ulfah.

Ditunjukkan oleh Kemajuan LSM

Polisi mengatakan bahwa berdasarkan hasil penyelidikan awal tidak ada unsur kriminal.

Polisi juga mengatakan ada indikasi bahwa laporan warga ini diprovokasi oleh sebuah LSM. Namun polisi mengatakan masih dalam penyelidikan.

"Warga melaporkan, tetapi tampaknya ada indikasi diprovokasi oleh kelompok LSM," kata Kepala Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan Ibrahim Tompo ketika dihubungi oleh AFP, Kamis (30/4/2020).

Ibrahim mengatakan upaya yang dilakukan oleh Bupati, Ulfah Lanto, memiliki niat baik karena khawatir warga mereka akan terpengaruh oleh Corona.

"Jika dianalisis, sebenarnya orang-orang yang tidak menyadarinya dan ada indikasi (diprovokasi oleh LSM)," jelas Ibrahim.

Senada dengan Ibrahim, Kapolres Parepare Ajun Komisaris Besar Budi Susanto mengakui hal yang sama. Terlapor adalah figur publik alias memiliki posisi publik.

"Ya (diprovokasi oleh LSM). Karena kalau saya lihat Parepare ini kota kecil, kan? Orang punya kepentingan politik tertentu," jelas Budi ketika dihubungi secara terpisah. (Detik.com

__Terbit pada
30 April 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *