Di tengah Pandemi Covid-19, Permintaan untuk Industri Pengalengan Ikan Meningkat

Di

* Industri pengalengan ikan adalah sektor industri yang mengalami peningkatan permintaan di tengah pandemi Covid-19. (Foto: Kementerian Perindustrian)

Jakarta, Viralmedia.Fun – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menginformasikan industri ini pengalengan ikan adalah sektor industri yang mengalami peningkatan permintaan di tengah pandemi Penyakit Virus 2019 (Covid-19).

Baca juga: Industri Pengalengan Ikan Bisa Memberkati Di Tengah Pandemi Covid-19

"Total produksi sektor pengolahan ikan mencapai 1,6 juta ton pada 2019, dan nilai ekspor meningkat pada 2019 menjadi USD 4,1 juta, "Twitter Kementerian Perindustrian di akun Twitter-nya, @Kemenperin_RI, Selasa (28/4/2020).

Sebelumnya Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Abdul Rochim mengungkapkan,
industri pengalengan ikan adalah salah satu sektor yang mendapat berkah di tengah pandemi Covid-19. Sebab, permintaan produk olahan di sektor ini cenderung meningkat, terutama untuk memenuhi kebutuhan protein masyarakat.

"Stok nasional produk sarden kalengan dan mackerel saat ini berjumlah 35 juta kaleng. Selain diserap melalui pasar ekspor, ritel dan ritel on line"Ikan kaleng olahan dapat digunakan sebagai salah satu produk bantuan sosial yang memenuhi kebutuhan protein masyarakat," kata Rochim di Jakarta dalam pernyataan tertulis, Jumat (24/4/2020).

width=640
Direktur Jenderal Industri Agro, Kementerian Perindustrian Abdul Rochim. (Foto: Kementerian Perindustrian)

Kementerian Perindustrian mencatat bahwa hingga saat ini terdapat 718 unit usaha pengolahan ikan yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Total produksi sektor pengolahan ikan mencapai 1,6 juta ton pada 2019, meningkat 300 ribu ton dibandingkan 2016.

"Untuk nilai ekspor, sektor industri ini juga meningkat pada 2019 menjadi USD4,1 juta," kata Rochim.

Menurutnya, pengolahan ikan termasuk dalam kategori sektor padat karya dan berorientasi ekspor. Karena itu perlu mendapat prioritas pembangunan.

"Setidaknya sektor ini sudah mampu menyerap sebanyak 336 ribu orang. Tanpa kendala Pasokan bahan baku untuk perikanan lokal, maka lapangan kerja bisa dioptimalkan, "jelasnya.

Meskipun kinerja positif, industri pengalengan ikan juga menghadapi berbagai tantangan terhadap dampak pandemi Covid-19. Tantangan-tantangan ini termasuk kenaikan harga kaleng, pasta saus dan tepung penebalan yang diimpor serta berkurangnya bahan baku untuk ikan yang diimpor dari negara-negara yang memaksakan kuncitara.

"Ekspor ikan olahan ke negara-negara yang terkena dampak wabah Covid-19 juga mengalami gangguan operator pengiriman yang belum beroperasi secara normal dan merupakan pihak pembeli menunda pembelian sehingga stok menumpuk di penyimpanan dingin, "Dia berkata.

Oleh karena itu, untuk menjaga kelangsungan bisnis industri pengalengan ikan domestik, Kementerian Perindustrian memandang bahwa sektor ini perlu distimulasi.

"Misalnya dalam bentuk stimulus pinjaman lunak, pelonggaran perizinan, pembebasan bea masuk atas bahan baku, dan peningkatan program konsumsi domestik untuk menyerap produk jadi ini, "kata Rochim.

Kementerian Perindustrian telah mengusulkan berbagai kebijakan untuk mengawasi sektor industri makanan dan minuman sehingga dapat memperoleh kemudahan produksi, terutama dalam masa darurat Covid-19.

"Kami mengusulkan pembebasan tarif pos untuk bea impor dalam konteks penanganan dampak Covid-19 dalam stimulus volume II," katanya.

Selain itu, ada juga kebijakan berupa relaksasi penerapan SNI wajib melalui Surat Edaran Menteri Perindustrian Nomor 5 Tahun 2020 tentang Pengecualian Sementara untuk Penambahan Bahan Fortifical dalam Tepung Terigu dan SE Menteri Perindustrian No 6 tahun 2020 tentang Pengecualian Sementara atas Kandungan Vitamin A dan / atau Provitamin A dalam Minyak Goreng Kelapa Sawit.

Kementerian Perindustrian memproyeksikan sektor industri makanan dan minuman akan terus tumbuh di tengah dampak pandemi Covid-19.

"Kami memperkirakan pertumbuhan sektor industri makanan dan minuman mencapai 4 hingga 5 persen, ini cukup baik," katanya.

Lebih jauh, industri makanan dan minuman adalah salah satu sektor yang memperoleh izin beroperasi selama implementasi Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB), yang diterapkan di sejumlah wilayah di Indonesia. Dengan demikian industri ini dapat tetap aktif dan diharapkan dapat memenuhi kebutuhan makanan orang.

"Kami terus mendorong industri untuk melakukan kegiatan produksinya dengan mempertimbangkan aspek keselamatan kerja sesuai dengan prosedur dan protokol kesehatan dalam menghadapi wabah Covid-19," pungkasnya. (arh)

__Terbit pada
28 April 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *