Dadang Naser: "Berikan masker sampah khusus"

Upaya untuk mendukung masker agar tenaga medis dan pasien tetap tersedia, serta untuk mengurangi masker sekali pakai dari masker sekali pakai, Pemerintah Kabupaten Bandung mendesak warga untuk menggunakan masker kain.


Viralmedia.Fun | BANDUNG – Hal ini dituangkan dalam Surat Edaran (SE) Bupati Bandung Nomor 658.31 / 895 / DLH tentang Pengelolaan Limbah Infeksi (Limbah Berbahaya dan Beracun) dan Sampah Rumah Tangga dari Penanganan Penyakit Virus Corona (Covid-19).

"Warga sehat disarankan untuk tidak menggunakan masker bedah sekali pakai. Gunakan saja topeng yang terbuat dari kain yang bisa dicuci dan digunakan kembali," kata Bupati Bandung H. Dadang M. Naser di kantornya di Soreang, Jumat (10/4/2020) .

Bagi warga yang karena berbagai alasan masih menggunakan masker medis, ia mengingatkan bahwa setelah digunakan, warga tidak sembarangan membuang jejak mereka.

"Ini harus dirobek, dipotong atau dipotong dulu, lalu dikemas dengan rapi sebelum dibuang ke tempat sampah. Ini perlu dilakukan agar tidak disalahgunakan nanti," tambah bupati.

Selain publik, ia juga mengimbau kepada kepala aparatur daerah, pimpinan lembaga dan pengelola gedung, untuk menyiapkan tempat sampah khusus untuk masker di ruang publik.

"Staf kebersihan juga harus dilengkapi dengan APD (Alat Pelindung Diri), yaitu masker, sarung tangan dan sepatu khusus (sepatu keselamatan). Semua APD harus disemprot dengan desinfektan sebelum dan sesudah digunakan," katanya.

Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung (DLH) Asep Kusumah menambahkan, SE menindaklanjuti penerbitan SE Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor SE.2 / MENLHK / PSLB3 / PLB.3 / 3/2020 Mengenai Pengelolaan Infeksi dan Limbah dari Manajemen Rumah Tangga -19.

"Limbah infeksius (A337-1) perlu dikelola sebagai limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun). Ini juga diperlukan sebagai ukuran kontrol, pencegahan dan penghentian transmisi co-19. Juga menghindari akumulasi limbah yang timbul dari penanganan co-19, "tambah Kepala DLH.

Semua fasilitas perawatan kesehatan, lanjut Asep Kusumah, harus menyimpan limbah infeksius dalam kemasan tertutup. "Dengan suhu yang lebih kecil atau sama dengan 0 derajat celcius sejak limbah telah dihasilkan, ia dapat disimpan hingga 90 hari. Tetapi jika suhu penyimpanan di atas 0 derajat, ia dapat disimpan paling lama hingga 2 hari dan harus segera dibuang, "lanjut Asep Kusumah

Pengangkutan dan / atau pemusnahan limbah infeksius, kata Asep, harus diserahkan kepada pengelola limbah B3 yang memiliki izin.

SE, jelasnya, juga mengatur pengelolaan limbah infeksius bagi masyarakat, terutama jika ada anggota keluarga yang terdeteksi sebagai People in Monitoring (ODP).

"Jika ada anggota keluarga yang ODP, limbah yang berpotensi menular harus disortir dan dikumpulkan secara terpisah. Antara lain dalam bentuk masker, sarung tangan dan pakaian pelindung pribadi, semuanya harus dikemas dalam kantong plastik kedap air dan diberi label sebelum dibuang. , "jelasnya.

Pejabat pemerintah daerah dan desa, kata Asep, dapat memfasilitasi pasokan kantong plastik sesuai dengan jumlah kebutuhan masing-masing desa. "Sedangkan untuk pembuangannya, dapat dikoordinasikan melalui Unit Pengelolaan Sampah dan Pengangkutan Sampah UPH," pungkas Asep. ***

__Terbit pada
12 April 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *