Bos BCA & # 39; Kehidupan sehari-hari berubah secara drastis karena Corona

Viralmedia.Fun – Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja menceritakan pengalaman selama pandemi COVID-19. Sebagai kepala bank, ia masih harus pergi ke kantor untuk memantau perkembangan perusahaan.

Setelah pemerintah meminta orang-orang untuk menjaga jarak, yang dulu ke kantor dengan sopir, dia sekarang menyetir sendiri. Jahja berangkat setiap hari dari rumahnya di area Pondok Indah ke Menara BCA dekat Bundaran HI.

"Ya, sekarang saya menyetir sendiri dari rumah ke sini, jadi cepatlah dan ambil sekitar 18 menit ke kantor, jika Anda pulang 16-20 menit untuk pulang," kata Jahja ketika berbicara dengan AFP.

Dia mengaku tidak memiliki masalah dengan kegiatannya mendorong dirinya sendiri ke kantor. Karena pada dasarnya dia sangat suka mengemudi selain dari itu dia dapat mengikuti saran pemerintah untuk mengurangi interaksi dengan banyak orang.

"Jadi sopir menunggu saya di kantor, maka dia akan menemukan parkir, jadi dia akan vallet. Kemudian ketika saya ingin pulang, dia akan meletakkan mobil di lobi lagi, semprotkan disinfektan mobil dan berikan saya kunci, " dia berkata.

Jahja mengatakan, sepanjang perjalanan dari daerah Pondok Indah ke Thamrin sangat sepi, dan sebaliknya. Awalnya pada hari-hari normal ia bisa menghabiskan waktu sekitar 45 menit – 1 jam ke kantor ini karena ada banyak kemacetan lalu lintas.


Tapi sekarang, ketika dia mengantar dirinya ke kantor dia hanya berhenti di lampu merah. "Sepanjang jalan sangat sepi, jadi sangat mulus, sekarang bisa dikatakan berhenti hanya di lampu lalu lintas. Saya dulu berjalan ke kantor jam 9 dan pulang jam setengah delapan malam," tambahnya.

Setiap kali dia pergi ke kantor, Jahja juga selalu mengikuti rekomendasi pemerintah untuk menjaga kesehatan seperti mengenakan topeng, membawa alat pembersih tangan dan mencuci tangan ketika dia tiba di kantor.

Ayah dua anak ini mengungkapkan bahwa kondisi seperti ini belum pernah diprediksi sebelumnya dan ujung-ujungnya tidak dapat ditentukan. Namun menurutnya, manusia harus menemukan sisi normal baru untuk tetap bertahan dan melakukan aktivitas. (Detik.com)

__Terbit pada
24 April 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *