Bisakah Fidyah Membayar Puasa Selama Pandemi? Inilah jawabannya MUI | Viralmedia.Fun

title=FIDYAH/

Jakarta, Viralmedia.Fun – Dunia maya baru-baru ini ramai membicarakan tentang tweeting netizen tentang permintaan agar Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa mungkin tidak berpuasa bagi mereka yang sehat, selama pandemi virus Corona (Covid-19).

Bisakah mereka yang sehat tidak berpuasa karena Covid-19 dan menggantinya dengan fidyah?

Berikut ini adalah tanggapan dari Pusat Gugus Tugas MUI Pusat-19, KH M Cholil Nafis, mengenai apakah harus berpuasa atau tidak selama pandemi dan menebusnya dengan membayar fidiyah:

"Awalnya saya enggan menanggapi pertanyaan di Indonesia yang manamenyebut Saya tentang hukum untuk menggantikan puasa Ramadhan dengan membayar Fidyah (tebusan). Namun, karena Ustadz Yusuf Mansur (UYM) mengirimi saya pesan tentang media online melaporkan bahwa MUI mengeluarkan fatwa yang memungkinkan fidyah untuk menggantikan puasa Ramadhan karena pandemi virus Corona. Saya masih enggan mencapainya. Namun UYM masih khawatir tentang pentingnya meluruskan berita karena sudah viral, "kata Kiai Cholil dalam keterangannya, Rabu (22/4/2020).

Dia menjelaskan, sebenarnya MUI belum pernah menerima pertanyaan resmi atau permintaan fatwa dari mana pun untuk menetapkan hukum fidyah sebagai pengganti kewajiban puasa Ramadhan karena pecahnya Covid-19.

Dan bahkan jika seseorang bertanya, Kiai Cholil percaya bahwa MUI tidak akan mempelajarinya apalagi mengeluarkan fatwa.

Menurutnya, fatwa dikeluarkan karena seseorang meminta fatwa dan pada dasarnya keputusan fatwa adalah bukti dari Alquran dan hadis. Jadi keputusan fatwa tidak dapat dipesan seperti toko online tetapi keputusan fawa sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip hukum Islam.

Kiai Cholil menjelaskan, fidyah adalah tebusan bagi orang yang tidak melaksanakan puasa Ramadhan. Ada empat hal yang harus dibayar fidyah untuk meninggalkan puasa Ramadhan:

  1. Orang hamil dan menyusui yang tidak berpuasa karena takut anak dikandung dan disusui berbahaya jika ibu berpuasa;
  2. Orang tua yang tidak dapat berpuasa karena usia tua;
  3. Orang sakit yang tidak memiliki harapan disembuhkan dan tidak bisa berpuasa;
  4. Orang yang memiliki hutang puasa untuk Ramadhan dan tidak menggantinya sampai mereka lulus Ramadhan berikutnya.

Tuhan subhanahu wa ta & ala memberi kelegaan bagi mereka yang tidak dapat berpuasa dengan memberi makan orang miskin alih-alih puasa, inilah yang disebut fidyah. Ini berdasarkan pada firman Tuhan subhanahu wa ta & ala:

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

"Dan itu wajib bagi mereka yang berat menjalankannya (jika mereka tidak puasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan orang miskin," (QS Al-Baqarah: 184).

Fidyah yang harus dibayar adalah satu makanan pokok lumpur setiap hari puasa yang tertinggal. Imam As-Syafi'i, Imam Malik, dan Imam An-Nawawi menetapkan bahwa ukuran fidyah yang harus dibayarkan kepada setiap orang miskin adalah 1 lumpur gandum sesuai dengan ukuran lumpur Nabi Muhammad sallallaahu ‘alayhi wa sallam.

"Intinya adalah bahwa lumpur adalah telapak tangan yang diangkat ke atas untuk menampung makanan (seperti orang yang berdoa). Lumpur adalah istilah yang mengacu pada ukuran volume, bukan ukuran berat," jelasnya.

Dalam buku Al-Fiqhul Islami Wa Adillatuhu disebutkan jika diukur dengan ukuran hari ini, 1 lumpur setara dengan 675 gram atau 0,688 liter.

Jadi tidak mungkin karena Covid-19 maka puasa Ramadhan digantikan dengan membayar fidyah. Karena kewajiban fidyah adalah karena mereka tidak dapat menjalankan puasa Ramadhan dan mengganti puasa yang dibiarkan sampai puasa tahun depan.

"Sementara Covid-19 tidak ada halangan untuk melakukan ibadah. Mari kita puasa karena puasa itu sehat," pungkasnya. (Fath)

__Terbit pada
22 April 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *