Berita Baik Berbagai Negara Di Tengah Wabah Covid-19 – Berita Luar Negeri

title=large-2020-04-04-91827-1585993635-large-51a58648c5bf89d1a5685841ceaf3213/

Saat ini, kondisi bumi tidak oke. Selama sekitar empat bulan, wabah pandemi yang disebut penyakit virus corona (Covid-19) menyebar ke seluruh dunia.

Setiap hari, jumlah pasien positif terus bertambah, disertai dengan peningkatan jumlah kematian. Sedih? Tentu saja. Semua negara sekarang bersama-sama mencari solusi dengan menerapkan berbagai kebijakan untuk meminimalkan, mencegah dan bahkan menghilangkan epidemi.

Sebagai orang awam yang tidak memiliki kewenangan lebih seperti pemerintah, kita tentu hanya bisa mengindahkan kebijakan dan banding yang ada. Namun sayangnya, tidak semua dari kita sadar akan bahaya Covid-19.

Ketika Covid-19 mulai menyebar satu per satu ke berbagai negara, seperti Indonesia, terjadi kepanikan di antara orang-orang sampai sebuah kebijakan yang tidak masuk akal. Mulai dari panik membeli, terlalu banyak asupan informasi dari media, pendapatan ekonomi pekerja informal yang menurun, hingga kebijakan pembebasan tahanan.

Namun, di antara semua hal yang terjadi selama Covid-19, ada juga berbagai kabar baik yang bermunculan. Di Indonesia salah satunya. Sampai 16 April lalu, jumlah pasien pulih lebih dari jumlah pasien yang meninggal. Tentu ini memberikan semangat optimis bagi kami. Ternyata, di antara kebingungan sekarang, masih ada secercah harapan untuk kembali sehat.

Tidak hanya itu, sebagai negara yang pernah dinobatkan sebagai negara paling dermawan di dunia pada tahun 2018 oleh Indeks Pemberian Dunia, ada juga banyak orang baik yang bekerja bahu membahu untuk membantu petugas medis, dan orang yang membutuhkan bantuan.

Selain Indonesia, ada juga kabar baik dari negara lain. Melalui webinar yang diselenggarakan oleh Dosen Tetap Non-PNS di Universitas Padjajaran (UNPAD) dalam aplikasi Zoom Jumat lalu (17/4), menghadirkan lima pembicara sebagai dosen UNPAD yang saat ini sedang menyelesaikan studi S2 dan S3 di negara-negara luar negeri untuk menceritakan kisah terkait kondisi di sana.

/
Diskusi "Covid-19 Dongeng dari Luar Negeri", Jumat lalu (17/4) | Foto: Dessy Astuti / GNFI

Mereka berbagi cerita dari Jerman dan Korea Selatan yang dianggap berhasil mencegah Covid-19, Belanda dan Inggris yang bersikeras melakukannya. kekebalan kawanandan Portugal, yang berada di bawah bayang-bayang angka kematian Covid-19 di Spanyol, yang cukup tinggi di Eropa.

Kabar baik pertama datang dari Jerman, sebuah negara dalam bentuk federasi di Eropa Barat. Kasus pertama Covid-19 di Jerman dimulai pada 2 Februari. Kemudian, pada tanggal 23 Maret, Jerman secara resmi melakukannya kuncitara disertai dengan berbagai kebijakan pemerintah dan dukungan dari masyarakat.

Seiring waktu, Jerman dianggap mampu menangani Covid-19 dengan baik. Hingga akhirnya, Jerman dinobatkan sebagai negara nomor satu teraman untuk menangani Covid-19 di Eropa. dan nomor dua secara global.

/
Medis Jerman | Foto: SASCHA STEINBACH / EPA-EFE

Kabar baik kedua datang dari negara Portugal, dengan kasus pertama Covid-19 dimulai pada 2 Maret lalu. Berbeda dengan negara lain yang berlaku kuncitara, Portugal menerapkan ekstensi keadaan darurat hingga 1 Mei.

Berita baiknya adalah, bagi para imigran di Portugal yang statusnya masih belum jelas, Pemerintah Portugis akan memberikan perpanjangan masa tinggal hingga akhir Juni tahun ini.

Ketiga adalah Inggris Raya. Kasus Covid-19 pertama di Inggris muncul pada 30 Januari. Pemerintah Inggris juga berlaku kuncitara sejak 23 Maret, dan dengan kondisi ini tentu mempengaruhi semua bidang, salah satunya ekonomi.

Menanggapi hal ini, Pemerintah Inggris juga menyarankan perusahaan untuk tidak memecat karyawan mereka dan mengambil tindakan untuk pulang. Tidak hanya itu, pemerintah juga memberikan keringanan dengan membayar gaji karyawan sebesar 80% dari gajinya. Sangat menarik bukan?

Selanjutnya, ada negara kincir angin, Belanda, yang juga menerapkan sistem kuncitara per 31 Maret dan diperpanjang hingga 28 April. Masih berbicara tentang ekonomi, terutama tentang sikap panik membeli Publik. Ternyata sejumlah barang dan kebutuhan di Belanda juga dibeli.

Meskipun demikian, barang dan kebutuhan masyarakat sudah habis tetapi harga tidak naik. Bahkan perusahaan pun mendapatkannya Pasokan dari Pemerintah Belanda untuk mengurangi harga.

Berita terbaru datang dari negara ginseng, Korea Selatan (Korea Selatan). Pada 20 Januari, kasus pertama Covid-19 di Korea Selatan muncul. Meski begitu, Korea Selatan tidak berlaku kuncitara dan hanya membuat kebijakan yang ternyata didukung sepenuhnya oleh komunitas.

width=1280/
Pemeriksaan Covid-19 di Daegu, Korea Selatan | Foto: Lee Moo-Ryul / Newsis via AP

Indeks kemampuan Pemerintah Korea Selatan untuk menggunakan teknologi informasi dalam melayani masyarakat sangat tinggi. Dan sebaliknya, indeks partisipasi publik untuk berpartisipasi dalam mengindahkan kebijakan pemerintah juga tinggi.

Tidak hanya itu, Korea Selatan juga merupakan negara pertama yang mengadakan pemilihan di tengah Covid-19. Wow, bagus, ya?

Dalam hasil diskusi ditemukan perbandingan yang menarik, yaitu keberhasilan penanganan Covid-19 tidak dapat dipisahkan dari berbagai aspek, termasuk kesiapan tenaga penelitian dan kesehatan, budaya masyarakat, pola kepemimpinan suatu negara, sosial, politik, dan kondisi ekonomi, dan pengungkapan informasi. .

Meskipun ada perbedaan dalam pendekatan dan hasil, tetapi satu hal yang dapat ditarik garis tebal dalam diskusi, adalah bahwa semua negara di dunia saat ini berjuang untuk berurusan dengan Covid-19.

Karena itu, pemerintah dan semua lapisan masyarakat harus bersinergi satu sama lain, sehingga kabar baik akan muncul selanjutnya untuk membangun semangat optimisme di tengah kondisi saat ini.

__Terbit pada
21 April 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *