Bank Emok Mengeksploitasi Peluang ketika Pedagang & # 39; Bisnis di Pasar Chileunyi Menurun

"Ketika sulit seperti sekarang, pinjaman dari tetangga juga sulit, karena kondisinya sama," kata seorang pedagang di Pasar Sehat Cileunyi, Lia Rosmalia.

| BANDUNG – Sejak pandemi virus korona (Covid-19), aktivitas bisnis para pedagang di Pasar Sehat Cilunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, telah menurun. Ini digunakan oleh bank emok untuk memberikan pinjaman kepada pedagang.

Salah satu pedagang di Pasar Sehat Cileunyi, Lia Rosmalia (31) mengatakan, pandemi Covid-19 memiliki efek yang cukup signifikan terhadap pendapatannya mengingat banyak orang yang enggan pergi berbelanja ke pasar.

Sebagian besar pedagang di pasar sehat Cileunyi adalah pedagang kecil yang mengandalkan hasil bisnis untuk kebutuhan sehari-hari. Ketika kondisi sulit seperti sekarang, keuntungan kecil membuat banyak pedagang menggunakan modal bisnis mereka untuk memenuhi kebutuhan, akhirnya modal bisnis semakin menipis.

"Ketika sulit seperti sekarang, pinjaman dari tetangga juga sulit, karena kondisinya sama," kata Lia ketika ditemui di Cileunyi, Kabupaten Bandung, Rabu (15/4/2020).

Untuk memenuhi kebutuhan modal ventura, banyak pedagang terpaksa meminjam uang dari bank seluler atau bank emok yang berkeliaran di pasar setiap hari.

"Meminjam dari bank itu sulit dan prosesnya lama. Akhirnya, banyak pedagang memilih bank seluler," katanya.

Menurutnya, sebagian besar pedagang di pasar Cileunyi yang sehat meminjam uang dari bank perjalanan. Persyaratan mudah dan proses cepat adalah alasan pedagang menggunakan layanan bank emok.

Pedagang rata-rata meminjam tidak kurang dari Rp. 2 juta yang dibayarkan setiap hari selama periode tertentu. Meskipun tidak pernah meminjam uang dari bank emok, praktik ini membuat Lia merasa tidak nyaman. Karena itu tidak jarang sesama pedagang yang meminjam uang darinya untuk menutupi cicilan.

"Saat ini kondisinya seperti ini (sulit) banyak yang tidak bisa bayar karena bisnisnya sunyi. Akhirnya, pinjam dulu ke orang. Yang ngumpul (emok bank) tidak mau tahu kalau kondisi jual sedang sibuk atau sepi, pada dasarnya itu harus dibayar, "jelasnya.

Lia berharap pemerintah bisa turun tangan menangani masalah itu. Paling tidak, katanya, pemerintah bisa mendirikan lembaga keuangan seperti tabungan dan pinjaman koperasi di pasar sebagai fasilitas modal bagi para pedagang.

"Atau jika perlu, ada petugas yang bisa mengusir bank emok dari pasar, sehingga tidak banyak pedagang terjebak," katanya.

Sementara itu, calon Bupati Bandung dari Partai Demokrat, Deny Zaelani yang mendengar keluhan mengatakan, perlindungan modal untuk pendirian koperasi di pasar tradisional merupakan solusi untuk menangkal bank emok mencari mangsa dari pedagang pasar.

"Memang harus ada koperasi. Atau pemerintah daerah sebenarnya bisa membuat BUMD bergerak di bidang simpan pinjam untuk pedagang pasar yang memiliki kondisi mudah dan proses cepat seperti bank emok, tetapi dengan sistem perbankan," kata pria yang akrab disapa ini. disebut Dezan.

Menurut Dezan, bank emok ini jelas ilegal. Dengan demikian, petugas juga dapat mengambil tindakan represif di pasar tradisional untuk memblokirnya. Dengan cara ini, ia percaya pedagang tidak akan menggunakan layanan bank EMOK. ***

Editor: Muhammad Zein

__Terbit pada
15 April 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *