Bahkan di Lockdown, 100 Ribu Orang Masih Menghadiri Pemakaman Ulama Besar di Bangladesh | Viralmedia.Fun

title=1587357150557/

Dhaka, Viralmedia.Fun – Kebijakan penguncian tampaknya tidak mempengaruhi rakyat Bangladesh untuk mencegah penyebaran korona. Alasannya adalah lebih dari 100.000 orang di Bangladesh sebenarnya melanggar kebijakan itu dengan terus menghadiri pemakaman seorang ulama terkemuka di distrik Brahmanbaria.

Seperti dilansir CNN dan Associated Press, Senin (20/4/2020), jumlah orang yang menghadiri pemakaman ulama yang juga merupakan pemimpin senior partai Islam lokal telah dikonfirmasi oleh asisten khusus Perdana Menteri Bangladesh, Shah Ali Farhad dan juru bicara Kepolisian Brahmanbaria, Imtiaz Ahmed.

Pemakaman ulama bernama Maulana Zubayer Ahmad Ansar diadakan pada Sabtu (18/4) waktu setempat. Mereka dikatakan telah melanggar aturan kuncian karena pemerintah melarang pengumpulan lebih dari lima orang saat menghadiri kebaktian atau doa pada satu waktu.

Sekretaris Jenderal (Sekretaris Jenderal) Partai Islam setempat, Mohammad Mamunul Haque, mengatakan bahwa puluhan ribu orang yang menghadiri pemakaman membanjiri jalan-jalan di distrik Brahmanbaria. Mereka berjalan dan berdesakan demi menghadiri pemakaman.

Orang-orang berkumpul di depan Jamia Rahmania Madrasah yang merupakan lokasi pemakaman. Mufti Mubarro Ullah sebagai kepala madrasah menyatakan bahwa pada awalnya pemakaman akan diadakan hanya untuk memenuhi kuncian.

"Kami ingin membuat pengaturan kecil untuk pemakaman, dengan mematuhi pedoman pemerintah dalam menjaga keselamatan dan kesehatan. Tetapi orang-orang berkumpul untuk memberikan penghormatan tanpa sepengetahuan kami. Kami tidak tahu bagaimana itu terjadi," katanya.

Secara terpisah, juru bicara Kepolisian Pusat Bangladesh Sohel Rana mengatakan polisi tidak dapat mengendalikan kerumunan yang menghadiri pemakaman. Personel yang ditugaskan untuk mengawal massa akhirnya ditarik dari acara tersebut.

Rana menambahkan bahwa komisi telah dibentuk untuk menyelidiki mengapa kerumunan yang begitu besar diizinkan untuk berkumpul pada satu waktu. Hingga Minggu (19/4) waktu setempat, pihak berwenang Bangladesh mengkonfirmasi 2.456 kasus virus Corona, dengan 91 kematian.

Tetapi pejabat setempat mengatakan jumlah total kasus aktual jauh lebih banyak karena kurangnya alat tes virus Corona di negara itu. Dalam upaya untuk membatasi penyebaran virus Corona, otoritas Bangladesh memberlakukan penguncian nasional yang akan berlangsung hingga 25 April. (Albar)

__Terbit pada
20 April 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *