Bagi mereka yang tidak tahu, ini adalah persyaratan wajib dan validitas puasa di bulan Ramadhan | Viralmedia.Fun

title=images

Jakarta, Viralmedia.Fun – Dalam sekitar satu minggu umat Islam akan bersiap menyambut bulan suci Ramadhan. Selama satu bulan penuh, Muslim diminta untuk berpuasa. Puasa di bulan Ramadhan menjadi salah satu ketentuan dari lima rukun Islam.

Keistimewaan puasa bulan ini adalah menghapus dosa-dosanya. Ini sesuai dengan hadits Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, yang dikatakan Nabi Muhammad:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

("Siapa pun yang berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharapkan jasa, akan diampuni dari dosa masa lalunya").

Dalam menjalankan puasa di bulan Ramadhan ada syarat yang wajib dan legal. Berikut kondisi berikut ini:

1. Muslim

Agama Islam adalah persyaratan wajib puasa dan sah, kata Ustadz Bahrul Ulum bahwa ketentuan puasa sebagai ibadah dimasukkan ke dalam rukun Islam seperti dalam Hadits Imam Turmudzi dan Imam Muslim yang berbunyi:

عن أبي عبد الرحمن عبد الله بن عمر بن الخطاب رضي الله عنهما قال: سمعت رسول الله صلى الله وسلم يقول: بني الإسلام على خمس: شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وإقام الصلاة وإيتاء الزكاة وحج البيت وصوم رمضان

(Dari Abi Abdurrahman, yaitu Abdullah Ibnu Umar Ibnu Khattab ra, berkata: Saya mendengar Nabi Shallallahu & # 39; alaihi wasallam berkata & # 39; Islam didirikan dengan lima hal, yaitu menyaksikan tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya , pendirian doa, penerbitan zakat, pekerjaan Allah. Haji di Baitullah (Kabah), dan puasa dilakukan di bulan Ramadhan & # 39;).

2. Baligh (dewasa)

Menurut Ustadz Bahrul Ulum, baligh menjadi persyaratan wajib bukan persyaratan puasa hukum. Orang yang belum mencapai pubertas atau anak-anak tidak diharuskan berpuasa.

"Anak-anak sejak kecil harus mulai mengajar puasa. Mereka puasa secara hukum, meskipun belum diharuskan," kata Ustadz Bahrul Ulum di YouTube Syariah Channel, yang dikutip Selasa (14/4/2020).

3. Masuk akal atau tidak gila

Bagi orang yang tidak bijak atau gila, tidak diharuskan berpuasa. Ini didasarkan pada hadits historis Abu Daud dan Ahmad:

رُفِعَ اْلقَلَمُ عَنْ ثَلَاثٍ عَنْ النّائِمِ حَتّى يَسْتَيْقِظُ وَعَنِ اْلمَجْنُوْنِ حَتّى يُفِيََِِِِِِِِِِِِِْْْْ

(Tiga kelompok yang tidak tunduk pada hukum syari'ah: mereka yang tidur sampai mereka bangun, orang-orang yang menjadi gila sampai dia pulih, dan anak-anak sampai dia pergi ke baligh).

4. Mampu

Dikatakan mampu jika seseorang dalam kondisi sehat untuk berpuasa. Jika Anda tidak mampu membelinya, Anda diharuskan menggantinya pada bulan berikutnya dengan membayar Fidyah.

"Menjadi sehat atau mampu adalah persyaratan wajib, itu tidak sah, orang sakit tidak wajib tetapi jika mereka dipaksa untuk berpuasa mereka dianggap sebagai hukum," kata Ustadz Bahrul Ulum.

5. Suci menstruasi dan melahirkan

Kondisi yang satu ini berlaku untuk wanita, serta menjadi persyaratan wajib dan sah untuk berpuasa.

Wanita yang sedang menstruasi atau postpartum mungkin tidak puasa, tetapi harus menggantinya pada hari setelah Ramadhan. Ini didasarkan pada hadits Nabi Muhammad yang berbunyi:

"Dari adzah, dia berkata," Aku bertanya kepada Aisyah sambil berkata, "Mengapa wanita yang sedang menstruasi puasa dan tidak berdoa" doa? "Jadi Aisha menjawab," Apakah kamu dari kelas Haruriyah? ‘Saya menjawab,‘ Saya bukan Haruriyah, tetapi saya hanya bertanya. Ayesha menjawab:

كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ

& # 39; Kami juga mengalami menstruasi di masa lalu, jadi kami diperintahkan untuk membuat & # 39; puasa & # 39; dan tidak diperintahkan untuk membuat & # 39; doa & # 39 ;. (HR. Muslim, no. 335).

6. Mengetahui awal Ramadhan

Kondisi lain untuk puasa adalah mengetahui awal bulan Ramadhan. Anda melakukan ini dengan melihat hilal secara langsung dan melalui saksi tepercaya. Namun, jika tidak terlihat makan dapat menentukan awal bulan Ramadhan dengan menghitung bulan Syaban hingga 30 hari.

Persyaratan hukum ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang membaca:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُواعِدَّةَثِثِثِ َ

(Puasa dan berbuka karena melihat bulan baru, dan jika bulan baru tertutup awan maka lengkapi hitungan bulan menjadi 30 hari). (Albar)

__Terbit pada
14 April 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *