Anang Eko Priyono Suluh Berpikir Intelektual

Anang

* Anang Eko Priyono. (Foto: spesial)

Oleh: Lukman Hakiem, Co-editor Dinamika Sejarah Islam Indonesia

Suatu sore di sebuah restoran Padang yang mulai menjamur di Yogyakarta, saya tidak sengaja bertemu Anang Eko (AE) Priyono.

Penulis Rekan

Saya mengenal Anang (seperti yang biasa saya katakan), sebagai sesama aktivis di HMI cabang Yogyakarta. Anang pernah menjadi Ketua Komisariat HMI Fakultas Hukum di Universitas Islam Indonesia (FH-UII), sedangkan saya pernah menjadi Sekretaris Komisariat HMI Fakultas Keguruan Ilmu Sosial (FKIS) IKIP Yogyakarta.

Pada masa kepemimpinan Zulkifli Halim, kami berdua dipercaya sebagai Ketua Divisi.

Di luar urusan HMI, kami dekat karena kami berdua suka menulis. Perbedaannya adalah, saya menulis untuk mencari nafkah; Anang menulis – saya curiga – untuk mengembangkan kecerdasannya. Anggapan itu didasarkan pada kenyataan, tulisan saya sering muncul di media massa suka Kedaulatan populasi di Yogya atau sinar Harapan di Jakarta; Anang sejauh yang saya ingat untuk tidak menulis di media publik. Anang menyibukkan diri dengan merawat pers di kampusnya.

Di FH-UII, Anang telah memimpin majalah mahasiswa Keadilan. Beberapa kali saya diwawancarai dan diminta menulis di majalah ini.

Di tingkat UII, Anang, bersama dengan Mahfud MD, dan Hamid Basyaib, mengelola majalah itu Niat Baik, kemudian Himmah. Beberapa senior majalah termasuk Amir E. Siregar, Syarief Hans, Ezrin R, dan Totok Daryanto.

Di Niat Baik dan Himmah Saya juga diwawancarai beberapa kali dan diminta menulis. Bahkan dalam sejumlah peningkatan jurnalistik, saya diminta untuk berbagi pengalaman.

Sejak awal saya mengagumi tulisan reflektif dan mendalam Anang.

Saya pernah mengatakan kepada Anang bahwa saya cemburu kepadanya karena tulisannya yang berat. Sambil tersenyum, Anang menjawab: "Ah, kamu."

Halaman selanjutnya

__Terbit pada
12 April 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *